Komunikasi

“Kalau lawan bicaramu mendengar dengan sepenuh hati, beban pikiranmu menjadi ringan. Kalau kamu tambah ruwet, meski yang mendengarkanmu tadi seolah serius mendengar, berarti dia tidak benar-benar hadir untukmu.”
― Dee, Supernova: Partikel

***

Terdengar dan terlihat simple, soal komunikasi. Bahkan Rei yang lulusan Ilmu Komunikasi pun kadang kurang bisa menempatkan kalimat, ekspresi, bahasa, dan lainnya. Pia dibuat setengah mati bingungnya menghadapi Rei.  Sebagian dari hatinya bilang “iya”, namun sebagian lagi bilang “tidak”. Rei cenderung lelaki yang “lempeng”. Ketika ditanya dia cukup jawab, “iya”, tanpa ada penjelasan lanjutan. Lalu Pia harus berusaha untuk bertanya lagi agar komunikasi tetap lancar dan obrolan semakin lanjut. Sayangnya jawaban singkat kembali terluncur, “engga”. Okay, end of discussion!

Pia paham, mungkin bukan seperti itu yang Rei maksud, tetapi membuat Pia harus terus memahaminya tanpa dia ingin dipahami, rasanya seperti ingin terbang dengan paralayang, tapi dengan angin kencang. Ingin terbang namun alam tidak mengijinkan.

Tidak tahu alasan yang jelas mengapa Rei kadang berkata singkat seperti itu, jika ditanya apakah lagi banyak pikiran, jawabnya “tidak”. Lalu selesai. Kadang pula Pia merasa, apakah dia yang salah bicara atau bicara di waktu yang kurang tepat? Lama-lama Pia jadi sering menyalahkan dirinya sendiri karena tidak lancarnya komunikasi dia dengan Rei. Aneh, harusnya dengan bersenda gurau, dengan berbicara satu sama lain, beban pikiran menjadi ringan.

( … ) Speechless.

Sepucuk Surat

Sepucuk surat yang tak sengaja kutemukan terselip di sebuah novel lama yang sedang kubaca di perpustakaan kecil ini. Tertulis, tanggal 18 Januari, sudah agak terkoyak sehingga tahunnya tidak begitu jelas. Surat ini ‘memaksaku’ untuk terus membacanya hingga akhir. Kubaca sekali lagi, kalimatnya seakan menghipnotisku untuk tidak menghentikan membacanya di tengah paragraf. Siapakah tokoh yang ada didalam surat ini, sepertinya surat ini sudah cukup lama dibuatnya, kertasnya sudah mulai menguning, tintanya pun sepertinya sudah sangat menyerap kedalam kertasnya.

Aku ingin mencintai dan dicintai dengan tenang, tanpa ragu, tanpa lelah, tanpa repot. Aku ingin merasakan kehangatan matahari dari dua sisi. Mungkin cukuplah waktu itu aku mencurahlah seluruh apa yang aku rasakan kepadamu. Ya, cukup itu saja. Tidak perlu ada kelanjutan yang memiliki arti. Karena memang kelanjutan yang berarti itu takkan pernah ada.

It never existed. Mungkin kamu akan berpendapat bahwa aku menghindar darimu. Di sisi lain mungkin kata-kata itu benar, tapi di sisi yang lainnya lagi, aku hanya peduli pada hatiku saja. Jujur aku lelah, aku tidak tenang, dan aku ragu. Katakan padaku jika kamu punya alasan untukku bertahan atas perasaan tak berujung dan nantinya pasti tak bermakna ini.
Continue reading

Terdampar di Kedai Kopi

Setelah sekian lama, aku kembali terdampar di Kedai Kopi.

Entah kapan terakhir kali aku mampir kesini, err, berbulan-bulan yang lalu sepertinya. Ada sebuah keinginan kuat yang membawaku kembali ke Kedai Kopi. Seperti biasa, aku memilih meja yang dekat dengan jendela, atau meja yang dapat melihat orang-orang diluar sana lalu lalang.

Sebuah rasa yang nyaman, rasa yang menyenangkan untukku kembali mengunjungi tempat ini. Aku sangat suka suasananya. Dengan yakinnya, aku memesan Hot Hazelnut Coffee. Aku suka berada disini, tidak terlalu ramai, musiknya pelan mengalun lembut. Aku memandangi masing-masing meja, ada sepasang kekasih yang sedang berbicara serius, nampaknya sedang mendiskusikan sesuatu. Ada pula pasangan yang sedari tadi bercanda, tertawa sambil sesekali sang pria memandang dengan tatapan yang penuh arti dan menggenggam tangan sang wanita. Ada juga seorang pria di ujung sana yang sepertinya sibuk dengan gadgetnya, entah sedang mempersiapkan apa. Adalagi seorang wanita paruh baya, sendiri, sibuk menulis di notesnya, sambil sesekali melihat keluar dan bertopang dagu, entah apa yang sedang ditulisnya. Dan aku sendiri, duduk di meja ini, memandangi semua pengunjung, sambil menunggu Hot Hazelnut Coffee-ku datang.
Continue reading

The man who will wait

I’ll wait.

***

Do you know why I can’t move easily? Why I can’t leave you easily?

It’s just because, “How can I move on when I’m still in love with you”

***

I am the man who will wait.

Yep, ‘til I know, waiting is really wasting. And ‘til I know that you are not mine. So my other luck is just passed by.

How pathetic I am.

Some people try to hand me money, they don’t understand

I’m not broke I’m just a broken hearted man

I know it makes no sense but what else can I do

How can I move on when I’m still in love with you

The Script – The Man Who Can’t Be Moved

Pesan yang tertunda

7.45pm

Aku masih berkutat dengan hiruk pikuk kota Jakarta. Walaupun di sisi yang lain, aku sangat menikmati pemandangan obelisk terbesar yang ada di kota ini, lengkap dengan kerlap kerlip lampu taman. Ah, indahnya.
Malam semakin larut, kendaraan berjalan merayap. Padat. Sendiri saja aku menumpang pada taksi yang kebetulan menyalakan radio, dan lagu-lagu mellow pun terdengar. Sesekali sang pengemudi taksi mengajakku berbicara, dan di kali lainnya, hanya suara radio saja yang terdengar.
Continue reading

Andai saja

Tik tok.

Tik tok.

Tik tok.

Sulit sekali rasanya memejamkan mata ini. Waktu semakin bergulir. Tak terasa sudah pukul 2am. Sigh! Memikirkanmu rasanya tak akan ada habisnya. Tapi aku sungguh merindukan kehadiranmu malam ini. Kamu pergi. Aku tau, kamu memang harus pergi dan aku dengan terpaksa merelakanmu pergi, walaupun kita sama-sama mengetahui perasaan masing-masing yang mungkin belum dapat dilepaskan, tapi aku memang harus membiarkanmu pergi.

It’s hard.

Dan malam ini, aku sungguh merindukanmu. Sungguh.

Andai saja kamu ada disini, menemaniku.

Andai saja kamu ada disini, menjadi milikku seutuhnya.

Andai saja kamu ada disini, mendekapku erat, sehingga aku dapat merasakan harum tubuhmu, hangat tubuhmu, sampai aku tertidur lelap di bahumu.

Yeah, wish you were here.

I know it’s hard for you to stay and so I let you go

But you promise me to never let me down

And said that you love me so

And I stare at the moon and hope we’ll meet there

Hope we’ll meet there cause I miss you

I wish you were here

Wish You Were Here – Endah N Rhesa

Karma

Pernah ngga kamu baca ada pepatah menyebutkan bahwa “A duck’s quack doesn’t echo?”, percayakah kamu dengan pepatah atau pantas disebut mitos itu? Hmm, aku tidak. Tentu saja suara teriakan bebek ber-echo, hanya saja, terlalu kecil atau hampir sejajar dengan suaranya itu sendiri, sehingga sulit didengar dengan kita.

Lalu pernahkah membaca soal karma? Sebuah kata yang bermakna perbuatan manusia ketika hidup di dunia atau hukum sebab-akibat. Seperti pepatah tadi, mendengar atau tidak mendengar echo, tapi echo itu ada. Dan suatu saat kamu harus percaya itu karena ada penelitian tentang itu. Lalu percayakah kamu dengan karma? Layaknya sebuah karma, sebab-akibat, saat seekor bebek itu berteriak, mungkin kita tidak dapat mendengar gaungnya, tapi ada kan? Ada sebuah akibat yang ditimbulkan dari sebuah sebab tadi, walaupun hampir tidak terdengar sekalipun. Hmm, sepertinya memang karma itu ada, karena aku baru saja mengalaminya. Seorang teman perempuan berkata, “Kamu kira cowo itu maenan? Karma berlaku cantik :)”. Aku jadi teringat sesuatu, aku pernah berkhianat pada satu pria dalam hidupku. Ya, hanya dia. Karena aku tidak akan pernah mau berkhianat lagi pada pria manapun. Satu saja sudah membuatku merasa bersalah atas perasaanku sendiri.
Continue reading