Lilin

Aku pernah seperti lilin yang membakar dirinya sendiri.
Aku pernah seperti lilin yang menerangi ruangan ketika gelap namun perlahan tiada dan tugasnya usai.
Aku pernah.

Kini aku masih menjadi lilin.
Hanya saja gelap sudah bukan jadi temanku.
Ruangan itu selalu diterangi lampu yang tidak pernah dipadamkan.

Kini aku masih menjadi lilin.
Hanya saja aku tak berguna lagi.
Teronggok beku di pojok lemari yang dingin.

Kini aku masih menjadi lilin.
Bahagia menerangi sekitarnya, kemudian lenyap tak bersisa ketika tugasnya usai.
Namun kini aku tiada guna, membahagiakan tidak bisa, sumbu ini pun lembab tak dapat dibakar.

Aku hanyalah lilin, yang selalu disalahkan ketika gelap tiba dan aku tak ada.
Aku hanyalah lilin, yang selalu disalahkan ketika aku tak dapat berdiri tegak diatas asbak.
Aku hanyalah lilin, yang cuma ingin satu, membahagiakan sekitarnya walaupun dirinya hancur.

Kala Senja

Karma does exist. But, is it karma? How do we define it?

“Kalau lawan bicaramu mendengar dengan sepenuh hati, beban pikiranmu menjadi ringan. Kalau kamu tambah ruwet, meski yang mendengarkanmu tadi seolah serius mendengar, berarti dia tidak benar-benar hadir untukmu.”
― Dee, Supernova: Partikel

Nyatanya, pepatah itu lagi yang harus Senja tulis.

Hmm, sudah lama sekali Senja meninggalkan kebiasaan menyesap kopi hitam. French Press yang mungkin sudah setahun lebih tidak digunakan, apalagi Vietnam Drip, hanya beberapa kali saja digunakan. Kini ada seseorang yang selalu mengingatkan bahwa tidak baik mengkonsumsi kopi sering-sering. Pun Senja memahaminya, hanya saja sesekali menyesap kopi instan masih sering dilakukannya. Seseorang yang sudah lama ada di sekitar Senja , hanya saja Senja terlalu acuh dan hanya menganggapnya sebagai seseorang yang hanya dia kagumi. Lelaki itu bernama Kala. Namun kini Kala sudah bukan hanya teman, waktu menjawab sesuatu, bahwa ketika kedua titik dipertemukan dalam persimpangan, pasti memiliki maksud tertentu, maksud yang mereka tangkap kini adalah they want to live happily ever after. Aamiin.

Tetapi bukanlah jalan kehidupan bila perjalanan dijalani dengan baik-baik saja atau bahkan terlalu baik-baik saja. Beberapa hal memang hanya Senja pendam, tidak pernah ia ceritakan pada siapapun. Siapapun. Senja merasa hanya hati dan pikiran yang menyelaraslah yang tau jawaban kegundahannya, lalu semua menguap begitu saja dengan sebuah kesimpulan yang membuatnya dapat tenang sendiri. Senja tau, kini sudah ada Kala, tempat bercerita apapun. Bahkan hal yang mengganjal pun tak dapat Senja ucapkan, lidahnya terlalu kelu.

Karma? Sebab akibat atau apalah yang setiap orang definisikan masing-masing.

Singkatnya, agaknya Senja mulai membenci dirinya sendiri. Bahwa ada seorang Kala yang belum bisa dia bahagiakan sepenuhnya. Bahwa ada seorang Kala yang selalu Senja kecewakan.

Komunikasi

“Kalau lawan bicaramu mendengar dengan sepenuh hati, beban pikiranmu menjadi ringan. Kalau kamu tambah ruwet, meski yang mendengarkanmu tadi seolah serius mendengar, berarti dia tidak benar-benar hadir untukmu.”
― Dee, Supernova: Partikel

***

Terdengar dan terlihat simple, soal komunikasi. Bahkan Rei yang lulusan Ilmu Komunikasi pun kadang kurang bisa menempatkan kalimat, ekspresi, bahasa, dan lainnya. Senja dibuat setengah mati bingungnya menghadapi Rei.  Sebagian dari hatinya bilang “iya”, namun sebagian lagi bilang “tidak”. Rei cenderung lelaki yang “lempeng”. Ketika ditanya dia cukup jawab, “iya”, tanpa ada penjelasan lanjutan. Lalu Senja harus berusaha untuk bertanya lagi agar komunikasi tetap lancar dan obrolan semakin lanjut. Sayangnya jawaban singkat kembali terluncur, “engga”. Okay, end of discussion!

Senja paham, mungkin bukan seperti itu yang Rei maksud, tetapi membuat Senja harus terus memahaminya tanpa dia ingin dipahami, rasanya seperti ingin terbang dengan paralayang, tapi dengan angin kencang. Ingin terbang namun alam tidak mengijinkan.

Tidak tahu alasan yang jelas mengapa Rei kadang berkata singkat seperti itu, jika ditanya apakah lagi banyak pikiran, jawabnya “tidak”. Lalu selesai. Kadang pula Senja merasa, apakah dia yang salah bicara atau bicara di waktu yang kurang tepat? Lama-lama Senja jadi sering menyalahkan dirinya sendiri karena tidak lancarnya komunikasi dia dengan Rei. Aneh, harusnya dengan bersenda gurau, dengan berbicara satu sama lain, beban pikiran menjadi ringan.

( … ) Speechless.

Sepucuk Surat

Sepucuk surat yang tak sengaja kutemukan terselip di sebuah novel lama yang sedang kubaca di perpustakaan kecil ini. Tertulis, tanggal 18 Januari, sudah agak terkoyak sehingga tahunnya tidak begitu jelas. Surat ini ‘memaksaku’ untuk terus membacanya hingga akhir. Kubaca sekali lagi, kalimatnya seakan menghipnotisku untuk tidak menghentikan membacanya di tengah paragraf. Siapakah tokoh yang ada didalam surat ini, sepertinya surat ini sudah cukup lama dibuatnya, kertasnya sudah mulai menguning, tintanya pun sepertinya sudah sangat menyerap kedalam kertasnya.

Aku ingin mencintai dan dicintai dengan tenang, tanpa ragu, tanpa lelah, tanpa repot. Aku ingin merasakan kehangatan matahari dari dua sisi. Mungkin cukuplah waktu itu aku mencurahlah seluruh apa yang aku rasakan kepadamu. Ya, cukup itu saja. Tidak perlu ada kelanjutan yang memiliki arti. Karena memang kelanjutan yang berarti itu takkan pernah ada.

It never existed. Mungkin kamu akan berpendapat bahwa aku menghindar darimu. Di sisi lain mungkin kata-kata itu benar, tapi di sisi yang lainnya lagi, aku hanya peduli pada hatiku saja. Jujur aku lelah, aku tidak tenang, dan aku ragu. Katakan padaku jika kamu punya alasan untukku bertahan atas perasaan tak berujung dan nantinya pasti tak bermakna ini.
Continue reading

Terdampar di Kedai Kopi

Setelah sekian lama, aku kembali terdampar di Kedai Kopi.

Entah kapan terakhir kali aku mampir kesini, err, berbulan-bulan yang lalu sepertinya. Ada sebuah keinginan kuat yang membawaku kembali ke Kedai Kopi. Seperti biasa, aku memilih meja yang dekat dengan jendela, atau meja yang dapat melihat orang-orang diluar sana lalu lalang.

Sebuah rasa yang nyaman, rasa yang menyenangkan untukku kembali mengunjungi tempat ini. Aku sangat suka suasananya. Dengan yakinnya, aku memesan Hot Hazelnut Coffee. Aku suka berada disini, tidak terlalu ramai, musiknya pelan mengalun lembut. Aku memandangi masing-masing meja, ada sepasang kekasih yang sedang berbicara serius, nampaknya sedang mendiskusikan sesuatu. Ada pula pasangan yang sedari tadi bercanda, tertawa sambil sesekali sang pria memandang dengan tatapan yang penuh arti dan menggenggam tangan sang wanita. Ada juga seorang pria di ujung sana yang sepertinya sibuk dengan gadgetnya, entah sedang mempersiapkan apa. Adalagi seorang wanita paruh baya, sendiri, sibuk menulis di notesnya, sambil sesekali melihat keluar dan bertopang dagu, entah apa yang sedang ditulisnya. Dan aku sendiri, duduk di meja ini, memandangi semua pengunjung, sambil menunggu Hot Hazelnut Coffee-ku datang.
Continue reading

The man who will wait

I’ll wait.

***

Do you know why I can’t move easily? Why I can’t leave you easily?

It’s just because, “How can I move on when I’m still in love with you”

***

I am the man who will wait.

Yep, ‘til I know, waiting is really wasting. And ‘til I know that you are not mine. So my other luck is just passed by.

How pathetic I am.

Some people try to hand me money, they don’t understand

I’m not broke I’m just a broken hearted man

I know it makes no sense but what else can I do

How can I move on when I’m still in love with you

The Script – The Man Who Can’t Be Moved

Pesan yang tertunda

7.45pm

Aku masih berkutat dengan hiruk pikuk kota Jakarta. Walaupun di sisi yang lain, aku sangat menikmati pemandangan obelisk terbesar yang ada di kota ini, lengkap dengan kerlap kerlip lampu taman. Ah, indahnya.
Malam semakin larut, kendaraan berjalan merayap. Padat. Sendiri saja aku menumpang pada taksi yang kebetulan menyalakan radio, dan lagu-lagu mellow pun terdengar. Sesekali sang pengemudi taksi mengajakku berbicara, dan di kali lainnya, hanya suara radio saja yang terdengar.
Continue reading