Pura Parahyangan Agung Jagatkartta

Sekitar 2tahun lalu, saya pergi ke Pura Parahyangan Agung Jagatkartta, Lereng Gunung Salak Bogor. Pura tersebut terletak di kawasan Gunung Salak. Jalur yang dilalui sama dengan ke arah Curug Nangka, namun lebih dekat ke Pura. Keluarga tante saya ingin sembahyang di Pura, karena menurut kepercayaan Hindu, Pura ini sama agungnya dengan Pura Besakih yang ada di Bali, jadi belum afdol jika sudah ke Besakih tapi belum sembahyang di Pura ini.

Waktu sudah menujukkan pukul 10 malam, keluarga tante saya, saya, Bapak serta Ayah (adiknya Bapak)  berangkat dari rumah nenek saya dijemput oleh temannya keluarga tante. Saya, Bapak dan Ayah yang notabene menganut agama selain Hindu, berniat ingin mengetahui tempat Pura dimana tante saya akan bersembahyang, katanya daerahnya dingin sekali. Wah jalan2 nih, pikir saya, atau sekedar menghirup udara segar.

Di jalan raya kami berpapasan dengan beberapa bis besar, “Itu bis rombongan dari Bali, mereka biasanya datang ramai-ramai untuk sembahyang di Pura Taman Sari mba” ujar tante saya yang melihat saya melirik ke bis2 tadi. Tak seberapa lama sampailah kami pada tanjakan yang pernah membuat saya trauma pada tanjakan. Ya, saya pernah jatuh di tempat yang sama ketika saya nyasar mau pergi ke Curug Nangka (padahal curug nangka bukan kesitu)🙂

Akhirnya kami sampai didepan kawasan pura🙂 ufff, turun dari mobil udaranya dingiiiiinn sekali..

Keluarganya tante saya sudah siap dengan baju bersembahyangnya, serta beberapa bunga2 yang ditaruh dalam besek. Sebelum masuk ke dalam Pura, kami semua diwajibkan menggunakan selendang berwarna kuning (seperti dulu ketika saya berkunjung ke Istana Tampak Siring di Bali). Beberapa tangga perlu dilalui menuju pura, ketika itu udara semakin dingin, lalu sampailah saya pada kawasan berumput, dan kami semua tidak boleh mengenakan alas kaki alias telanjang kaki. Terdapat sebuat ritual khusus sebelum memasuki Pura. Setiap orang didoakan (oleh seseorang yang saya tidak tau disebutnya apa), lalu di ciprat-cipratkan air di kepala masing-masing. Saya pikir orang-orang yang mau bersembahyang saja yang perlu mengikuti ritual seperti itu, ternyata saya pun wajib mengikutinya. Wah semakin dingin aja, pikir saya, udah udaranya dingin, ditambah dicipratkan air dikepala pula. brrrrrr… Lalu kami masuk kedalam Pura. Rumputnya sejuk, dan tidak kotor. Kami semua duduk beralaskan tikar. Tidak berapa lama kemudian ritual sembahyang pun dimulai, dan ternyata ada ritual lainnya pula. Lagi-lagi diciprat-cipratkan air. Brrrrrr,,, tambah dingin saja..

Sekitar setengah jam atau lebih ritual sembahyang selesai. Kami turun dan istirahat sejenak di bale-bale pemimpin sembahyang, lalu kami makan, waktu sudah menunjukkan pukul 12. Setelah selesai saya pikir kami sudah mau bersiap-siap untuk pulang, namun perkiraan saya salah, kami akan naik ke Pura kembali karena akan ada ritual tengah malam yang akan segera dilaksanakan. Oh my God, sudah tengah malam begini saya harus keatas lagi, dingin2 begini dan akan diciprat-cipratkan air lagi.. ah tapi saya masih diperkenankan mengambil foto dan saya sangat menikmati suasana malam itu. Pura yang indah pada malam hari, temaram, sunyi, dan khidmat.

foto dari : http://bogordailyphoto.blogspot.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s