Sang Pemburu: Gurita

OctopusSore tadi saya menonton sebuah acara bertajuk Sang Pemburu di salah satu stasiun TV swasta negeri ini😀 *panjang*.

Awal saya menonton, saya hanya bergumam dalam hati, “Aih, cerita ini lagi, tentang Sang Pemburu gurita, udah pernah nonton inimah”, tapi setelah saya bergumam itu, saya tetap melanjutkan menonton acara itu, sampe maju duduknya, sampe depan TV😀

Sang Pemburu sore tadi berlokasi di Pulau Flores sana yang memang mayoritas bermata pencaharian memburu gurita. Jangan pernah berfikir mereka mempunyai alat yang canggih atau memiliki standar keamanan sendiri dalam memburu gurita. Tentu saja dengan cara konvensional dan tradisional. Dengan menggunakan sampan sederhana, mereka tidak memakai alat selam apapun, hanya pakaian seadanya, kacamata renang sederhana, dan tusukan (doh, gak tau namanya, pokonya panjang, dan fungsinya buat nusuk si guritanya, tiap orang megang 1 atau 2 tusukan). Para pria bahkan tidak jarang hanya memakai celana pendek saja, dan bertelanjang dada, lalu mereka beraksi dengan memegang tusukan dan berkacamata renang sederhana.


Terus gimana caranya? Mereka naik sampan, tadi sih liatnya satu sampan satu orang, lalu mereka mendayung sampannya sampai di tempat yang mereka kira ada gurita disitu. Lalu mereka menyelam entah di kedalaman berapa, dengan peralatan seadanya tadi, dan dengan gagahnya, mereka menusuk gurita yang bersembunyi diantara karang. Memburu gurita sungguh memiliki resiko yang sangat tinggi.

Beberapa pria bercerita bahwa, mereka sebetulnya tahu segala resiko yang mungkin menimpa mereka, tetapi mereka harus tetap menjalani profesi ini karena tuntutan ekonomi. Jika mereka berhenti memburu gurita, mungkin mereka bingung hari ini harus makan apa? Bagaimana dengan keluarga? dsb. Bahkan mereka bercerita pengalaman mereka ketika memburu gurita. Seorang bapak pernah terlilit oleh gurita tersebut, dan beliau terus mencoba untuk melepaskan diri dari jeratan gurita tersebut.

Bapak itu hanya bilang, “Saya hanya takut kaki-kakinya masuk ke telinga saya, itu yang berbahaya”. Lalu ada seorang lelaki yang turut menceritakan pengalamannya, “Kita tidak punya alat selam, dan tidak jarang kami menyelam terlalu dalam. Kami harus menahan tekanan air laut. Waktu itu saya pernah keluar darah dari hidung karena tidak kuat dengan tekanan air”. Ada juga yang berkata seperti, “Kami hidup dari laut, jika memang kami harus mati di laut, memang itulah kehendak Allah” *speechless*

Ada juga seorang lelaki yang mempunyai teknik tersendiri dalam menangkap gurita. Jika beberapa orang yang telah saya sebutkan diatas, langsung menyelam di kedalaman tertentu mulai mencari gurita diantara karang-karang, namun lelaki ini tengkurap diatas sampannya, sambil mendayung sampan dengan kaki dan tangannya. Wajahnya secara penuh, beliau benamkan diatas permukaan air, sambil sesekali tangannya menggerak-gerakkan gurita mainan yang terbuat dari kain. Metode ini digunakan untuk mengelabui gurita yang menganggap mainan itu adalah temannya. Saat lelaki ini melihat ada gerak-gerik sang gurita, barulah dia menyelam, dan mengambil gurita tersebut.

Entah. Mungkin pertama kali sebelum ini, saya nontonnya ngga beres atau gimana, setelah nonton yang tadi sore, di tengah-tengah acara tersebut, ada sebuah hal yang lebih menarik lagi untuk diperhatikan. Jika saya, kamu, kalian, mendengar frase Sang Pemburu, mungkin yang ada di benak saya adalah seorang atau segelintir orang yang pekerjaan sehari-harinya memburu *yaiyalah* dan mereka adalah para pria atau suami atau kepala keluarga di rumah tangga. Namun setelah beberapa saat memandangi acara TV tersebut, saya baru menyadari, bahwa, Sang Pemburu gurita ini ngga hanya lelaki, pria, suami, tapi malah perempuan, bahkan ibu-ibu tua yang sudah beruban. Wow! Such a wonder woman😀

Saya sungguh terpana dengan ketangguhan mereka dan keberanian mereka dalam mencari gurita. Saya sungguh terpukau melihat cara mereka mencari gurita dan seketika menusuk gurita berkali-kali dengan tusukan. Walaupun gurita tersebut mengeluarkan tinta hitam, tetap saja ibu-ibu tua itu menghujamkan tusukan ke arah kepala sang gurita, sambil sesekali kaki-kaki gurita tersebut melilit di tangan ibu-ibu tua.

Lalu, apa yang hendak mereka lakukan setelah gurita-gurita tersebut ditangkap?

Ternyata transaksi dilakukan di tengah laut. Seorang ibu memberikan gurita hasil tangkapannya kepada pembeli untuk ditimbang, ternyata gurita yang dia dapat hari itu, 1,5 kg dan dihargai Rp. 15ribu. Sungguh miris, satu kg dihargai hanya sepuluh ribu rupiah, nampaknya tidak sepadan dengan usaha dan resiko yang mungkin didapat ketika mencari gurita. Dengan wajah berseri-seri, seorang ibu berkata, “Alhamdulillah, dapat uang. Inilah uang yang kami gunakan untuk makan hari ini” Oh my God! Betapa Engkau selalu memberikan nikmat pada hamba-Mu yang memang mau bersyukur🙂

Kata-kata dari seorang ibu-ibu tua yang ternyata sudah memiliki cucu ini, sungguh membuat saya terenyuh, “Saya mau dapat uang banyak-banyak untuk Naik Haji. Tapi nyatanya uang saya tidak bertambah banyak. Ya sudah, teruskan saja mencari gurita setiap hari”

MasyaAllah, dengan penghasilan dan perjuangan yang sungguh tidak seimbang. Di sebuah tempat yang sungguh jauh dari kebisingan kota, di sebuah tempat dimana mereka mengerjakan pekerjaannya dengan hati, dan selalu bersyukur, di sebuah tempat yang setiap saat terdengar deru ombak dan suara air laut yang menarik dan mendorong pasir ke pantai. Sungguh acara TV yang membuat saya banyak belajar dan harus lebih menghargai hidup🙂

8 thoughts on “Sang Pemburu: Gurita

    • eh udah baca?😀
      hahaha kemaren itu kenapa bisa bareng ya mu nulis ttg acara tivi ini😀 abisnya mengharukan dan bikin gregetan pgn nulis gitu😀
      thnks ya Nda😉

    • eitss, ada om warm😀
      thanks🙂
      hanya menceritakan ulang acara itu sih sebenernya, yang kisahnya sungguh menginspirasikan untuk selalu bersyukur, no matter what happen🙂

  1. saya ga pernah nonton tv. ga tau ada acara seperti ini😐
    makasih postingannya, bikin saya malu kalo ga bersyukur

    dan jadi pengen nonton acaranya euy😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s