I love you, bude.

Suatu hari, saya mendengar kabar bahwa bude sakit, lalu dengan segera dibawa ke rumah sakit terdekat di daerah Salatiga. Kabar yang saya dengar, beliau struk. Bude hanya terpaut dua tahun dengan bapak. Bude anak pertama dari tujuh bersaudara, dan bapak anak kedua nenek setelah bude. Tak lama setelah kabar diterima di Bogor, dua hari kemudian nenek langsung pergi ke Salatiga untuk bertemu dan menjenguk bude. Sejak nenek disana, beberapa kali nenek telepon ke mama untuk menceritakan keadaan bude yang kondisinya belum stabil, masih naik turun, sesekali nenek titip pesen, kalo bapak sempet jenguk bude di Salatiga, harap dateng. Bapak dan mama pasti pengen dateng, tapi mereka sama-sama kerja, harus bisa menyesuaikan waktu dan lain sebagainya. Setidaknya doa selalu dipanjatkan untuk bude darisini.

Di hari yang lain, nenek telepon lagi, bertanya, kapan bapak bisa dateng ke Salatiga? Karena kondisi bude yang tidak kunjung stabil, akhirnya dipindahkan ke rumah sakit di Semarang. Sempet masuk ICU lalu pindah ke kamar biasa. Saya sebagai keponakannya tentu saja sedih mendengar kondisi bude, ingin sekali menjenguk bude. Lalu saya lupa tepatnya kapan, nenek telepon lagi, sangat berharap bahwa adik-adiknya bude bisa datang menjenguk. Nenek tidak bisa ikut ke Semarang, karena dua anak bude yang masih SMA harus tetep sekolah dan nenek yang merawat sementara serta menunggui rumah. Sementara suami bude dan anak kedua bude di rumah sakit di Semarang, dan anak pertama bude berdomisili di Bogor. Akhirnya dipastikanlah hari Kamis, 23 November 2010, bapak dan ayah (anak ketiga. saya memang memanggilnya ayah) merencanakan untuk pergi ke Salatiga, beli tiket pesawat dengan jadwal Jumat, 24 November 2010 pukul 6 pagi.

Lalu, om Jojo dan Tante Neneng (anak keenam dan kelima) akhirnya memutuskan pergi bersama-sama hari Kamis, 23 November 2010 dari Bali, karena mereka memang berdomisili di Bali. Sebelumnya om Jojo sudah berniat ingin pergi sebelum hari minggu, namun karena tante masih ada kegiatan, maka hari yang tepat adalah kamis itu. Lalu papi Endang (anak keempat) sudah ada di Bogor, menunggu rumah nenek, karena saat nenek pergi ke Salatiga, papi Endang yang mengantarnya, jadi papi Endang sudah menjenguk bude. Mungkin lebih baik menjaga rumah nenek yang ada di Bogor saja sementara. Kemudian om Yayan (anak ketujuh) yang berdomisili di Gorontalo pun turut mendoakan bude dari jauh.

Namun ternyata, Tuhan berkehendak lain, Kamis, 23 November 2010, bude mengembuskan nafasnya yang terakhir pada pukul 18.20 dengan usia 54 tahun. Ketika om Jojo dan tante Neneng tengah berada di kapal feri menuju pulau Jawa, dan ketika bapak dan ayah yang sudah memegang tiket pesawat menuju Semarang pukul 6 pagi keesokan harinya dengan tujuan menjenguk, dan adik-adiknya yang lain yang mendengar kabar serupa sungguh sangat terpukul dan shock. Saya sendiri mendengar kabar itu pukul 9malam dari mama. Padahal pukul 7malam, mama sempet mendapat telepon dari nenek yang bercerita sambil nangis, tetapi nenek tidak mengabari apa-apa. Sepertinya nenek baru tau kabarnya sekitar satu jam kemudian. Mama sendiri dapet kabar malah dari tante (sepupu bapak) yang lagi di Jepang. Berita dengan cepat menyebar.

Malamnya, sekitar pukul 22.30, mas Eka (anak bude yang pertama) datang kerumah. Ayah pun sudah bersiap-siap untuk tetap pergi keesokan harinya bersama bapak, dengan itu ayah nginep dirumah. Mas Eka datang untuk sharing, apa-apa saja yang harus dilakukan (mas Eka satu-satunya anak bude yang muslim), karena jenasah akan dibawa ke Bogor, besok sorenya. Budeku adalah seorang protestant, mungkin ada tata cara tertentu antara malamnya hingga esok siang makanya baru berangkat dari sana sore harinya.

Ketika mas Eka datang, lalu sharing, sayup-sayup terdengar dari kamar saya, bahwa mas Eka menangis. Begitu juga bapak. Padahal bapak orang yang paling tegar. Namun malam itu sungguh sendu. Ayah sempat menasehati mas Eka, walaupun agak terbata-bata. Dan saya hanya bisa sedikit saja mendengar dari kamar. Sekitar pukul 2 pagi, bapak dan ayah pun pergi ke damri diantar oleh mas Eka, untuk kemudian menuju bandara Sutta.

Ketika jenasah datang subuh tanggal 25 November 2010, aku dan mama bersiap-siap untuk pergi ke rumah duka. Seluruh keluarga dari segala penjuru kota dan pulau pun sedang dalam perjalanan menuju Bogor. Ade yang berkuliah di Bandung pun diajak Ua ke Bogor. Om Yayan yang dari Gorontalo pun datang, dan saudara-saudara lainnya yang di Jakarta, Tangerang, Wonosobo dll. Saat saya dan mama berangkat kerumah nenek, disana sudah cukup ramai, lalu nenek mengajak saya dan mama untuk segera berangkat ke rumah duka. Sedangkan yang lainnya masih membereskan rumah dulu.

Akhirnya saya sampai, ada bapak, ayah, istrinya ayah, lalu nenek dan mama disana, sedangkan keluarga yang lainnya pulang dulu sementara untuk mandi dan mengurus urusan lain sebagainya. Saya datang bude, saya datang menjengukmu. Seketika mama menangis melihat jenasah bude. Saya masih menahan air mata ini untuk turun. Lalu nenek menceritakan, bahwa baju yang dikenakan bude adalah baju kesayangan bude, hanya dipakai pada saat tertentu dan seringnya disimpan dengan baik dalam lemari. Ya Allah, mata saya mulai berkaca-kaca. Nenek pun bercerita lagi, foto yang dipampang didepan kita ini adalah foto visa untuk pergi ke tempat dimana anak kedua bude bekerja sebagai pramugari di Etihad Airways, eh malah akhirnya dipakai untuk foto jenasah. Sungguh air mata ini sudah tak tertahankan, segala memori tentang saya dan bude seketika teringat dan berseliweran. Saya punya kenangan yang sungguh banyak dengan bude. Sekali air mata ini turun, sungguh sulit untuk dihentikan, padahal saya tau, tidak boleh menangis. Ya Allah, maafkan saya. Didepan bapak, mama, nenek, om, tante, saya menangis sesegukan sambil menutup muka dengan sapu tangan, berusaha menghentikan tangis ini.

Bude, semoga bude berada di tempat yang baik di sisi-Nya ya. Banyak keluarga, tetangga, teman, semua sayang bude. Banyak sekali yang datang berkunjung. Mereka pasti punya kenangan-kenangan indah bersama bude, karena bude baik sama siapapun, tidak pilih-pilih, bude pun mudah berbaur dengan orang-orang, bude orang yang sederhana sehingga banyak yang menyukai bude. Bude baik-baik ya disana. Maaf, saya ndak bisa nganter bude ke peristirahatan terakhir bude (26 November 2010 pukul 9 pagi) yang kata nenek dan mama tempat yang pemandangannya bagus banget di daerah Cipaku Bogor.

Semua yang terjadi pasti adalah kehendakNya. May you rest in peace, my lovely elder aunty!

9 thoughts on “I love you, bude.

  1. tieee …. semoga budhe mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan ya, yang sabar itu pasti yang terbaik untuk membebaskan budhe dari rasa sakit🙂 budhe sudah tenang disana

  2. yuyuk : iyaaa, bude sekarang ngga sakit lagi, bude udah tenang di sisi-Nya😉 amin, makasi yaa😉

    mba nuigel : iya mbaaa, ini jalan yang terbaik dariNya.. *hugs back*🙂

  3. Pingback: #dearBapak: Get Well Soon

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s