Karma

Pernah ngga kamu baca ada pepatah menyebutkan bahwa “A duck’s quack doesn’t echo?”, percayakah kamu dengan pepatah atau pantas disebut mitos itu? Hmm, aku tidak. Tentu saja suara teriakan bebek ber-echo, hanya saja, terlalu kecil atau hampir sejajar dengan suaranya itu sendiri, sehingga sulit didengar dengan kita.

Lalu pernahkah membaca soal karma? Sebuah kata yang bermakna perbuatan manusia ketika hidup di dunia atau hukum sebab-akibat. Seperti pepatah tadi, mendengar atau tidak mendengar echo, tapi echo itu ada. Dan suatu saat kamu harus percaya itu karena ada penelitian tentang itu. Lalu percayakah kamu dengan karma? Layaknya sebuah karma, sebab-akibat, saat seekor bebek itu berteriak, mungkin kita tidak dapat mendengar gaungnya, tapi ada kan? Ada sebuah akibat yang ditimbulkan dari sebuah sebab tadi, walaupun hampir tidak terdengar sekalipun. Hmm, sepertinya memang karma itu ada, karena aku baru saja mengalaminya. Seorang teman perempuan berkata, “Kamu kira cowo itu maenan? Karma berlaku cantik :)”. Aku jadi teringat sesuatu, aku pernah berkhianat pada satu pria dalam hidupku. Ya, hanya dia. Karena aku tidak akan pernah mau berkhianat lagi pada pria manapun. Satu saja sudah membuatku merasa bersalah atas perasaanku sendiri.

Dia pria baik, entahlah, terlalu baik malah. Dulu, saat aku pacaran dengannya, dia memperlakukan aku dengan baik, membuatku nyaman, tapi entah apa yang merasuki pikiran dan hatiku, aku tergoda dengan pria lain yang lebih tampan. Sayangnya pria tampan itu tidak membuatku nyaman senyaman dengan pacarku. Ketika sang pria tampan dengan mudahnya meluluhkan hatiku dengan ketampanannya, aku lalu memutuskan hubunganku dengan pacarku, karena rasa ego yang membuatku ingin menunjukkan pada teman-temanku bahwa priaku tampan. Sungguh aneh kalau sekarang aku pikir-pikir. Ah, hal ini terjadi bertahun-tahun yang lalu, sudah lama sekali.

Pacarku mengiyakan, karena mungkin dia pikir, dia memang bukan seseorang yang dapat membahagiakanku, dia bilang, asal aku bahagia dengan keputusanku, dia iya saja, walaupun sebelumnya dia sempat bertanya-tanya dan curiga mengapa hal ini terjadi dengan tiba-tiba. Tapi toh dia bisa menerimanya. Selang beberapa bulan kedepan, hubunganku dengan pria tampan makin erat, hingga akhirnya kita berpacaran. Kini aku memiliki seorang pacar tampan yang setidaknya tidak malu jika ditunjukkan pada teman-teman dan keluargaku. Lagi-lagi pemikiran aneh.

Sebulan. Dua bulan. Semua berjalan baik-baik saja. Tiga bulan. Empat bulan.

Yak, di bulan yang keempat, aku baru menyadari, bahwa aku hanyalah selingkuhannya. Jangan tanya aku tau darimana soal ini. Memang sih, yang aku tau, dia baru dekat dengan perempuan ini, dekat, tapi udah dua bulan, seseorang bilang padaku, mereka hanya dekat, tapi belum berpacaran, malah nantinya akan memutuskan aku dalam beberapa minggu kedepan, agar mereka nantinya bisa berpacaran.

Duh, begini ya rasanya? Selingkuh diselingkuhi. Mengapa aku sebut ini selingkuh? Karena ini sudah menyangkut masalah hati. Ketika hati telah berpaling pada yang lain, lalu bagaimana bisa hati ini menghandle dua rasa sekaligus sedangkan satu hati dirinya menaruh harapan penuh pada hatiku. Lalu ketika pada akhirnya aku sudah putus dengan pria tampan itu, aku menaruh harap kembali pada pria baik.

Dia masih menerimaku, tapi aku tau, dia masih menyimpan rasa sakit yang telah aku berikan, karena dia pun tau, aku memutuskannya karena orang lain. Saat itulah hatiku bimbang, aku benar-benar menginginkannya ataukah aku menginginkan dia karena hanya tidak ingin jauh darinya? Dan aku ternyata harus jatuh pada pilihan, aku tetap membiarkan aku sebagai aku, dan dia hanya sebagai dia, tidak ada kita. Aku ingin menghargai perasaannya, karena aku pun tidak ingin menyakiti hatinya lagi, aku harus meyakinkan diriku sendiri bahwa aku benar-benar menginginkannya, bukan sekedar ingin dia dekat saja.

Lalu, sekali lagi, percayakah kamu dengan karma?

Bagaimana kamu mempercayai dan menghadapi sebuah karma itu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s