Rindu. Berlebihankah?


Aku duduk di sudut kamar ini. Mengambil sebuah buku, lalu mulai membacanya.

Begini cara kerja sesuatu yang engkau sebut cinta..

Engkau bertemu seseorang lalu perlahan-lahan merasa nyaman berada di sekitarnya. Jika dia dekat, engkau akan merasa utuh dan terbelah ketika dia menjauh. Keindahan adalah ketika engkau merasa ia memperhatikanmu tanpa engkau tahu. Sewaktu kemenyerahan itu meringkusmu, mendengar namanya disebut pun menggigilkan akalmu. Engkau mulai tersenyum dan menangis tanpa mau disebut gila.

Berhati-hatilah…

Kelak, hidup adalah ketika engkau menjalani hari-hari dengan optimisme. Melakukan hal-hal hebat, menikmati kebersamaan dengan orang-orang baru. Tergelak dan gembira, membuat semua berpikir hidupmu telah sempurna.

Sementara, pada jeda yang engkau buat bisu, sewaktu langit meriah oleh benda-benda yang berpijar, ketika sebuah lagu menyeretmu ke masa lalu, wajahnya memenuhi setiap sudutmu. Bahkan, langit membentuk auranya. Udara bergerak mendesaukan suaranya. Bulan melengkungkan senyumnya. Bersiaplah…

Engkau akan mulai merengek kepada Tuhan. Meminta sesuatu yang mungkin telah haram bagimu.

Tasaro – Galaksi Kinanthi


Tak ada habis-habisnya aku memuji beberapa paragraf pada bab pertama buku ini, dan takkan bosan pula aku mengulang-ulang membacanya.

Sungguh indah memang, membaca kata-kata tentang keindahan, sebuah keindahan bernama cinta dan segala rupanya. Sungguh indah pula, aku merelakan waktuku, untuk aku kembali kesekian kalinya “mendamparkan” diri di sudut kamar ini, ditemani secangkir Carrebian Nut Coffee panas, dan semakin indah pula aku sembari mendengarkan rintik-rintik hujan yang turun dari atas atap sedemikian rupa sehingga menimbulkan irama yang menenangkan.

Memang takkan ada habisnya jika ingin membahas soal cinta, sebuah kenyamanan, kerinduan, bahkan sebuah kehilangan atau rasa ketika dia menjauh. Hmm, nyatanya mereka adalah satu paket yang tidak dapat dilepaskan. Bagaimana menurutmu jika aku berbicara rindu hanya ketika dia baru saja melepaskan genggaman tangannya dari tanganku? Bagaimana menurutmu jika aku berbicara rindu hanya ketika dia baru melepaskan dekapan hangat tubuhnya dari tubuhku?

Adakah sebuah rindu itu terasa berlebihan? Adakah sebuah rindu dapat dikatakan sebuah rasa membuncah yang terlalu berlebihan? Hmm, nyatanya memang begitulah rindu.

Satu hal, aku merindukan saat-saat ketika kamu memperhatikanku dan aku luput melihatmu memperhatikanku, lalu saat aku menoleh dan mata kita saling bertemu. Crap! Waktu seakan berhenti, lalu sepersekian detik kemudian, kamu memberikan senyuman itu.

***

Kutipan buku berdasarkan sumber review buku Galaksi Kinanthi – Tasaro di http://lilliperry.blogspot.com/2010/01/galaksi-kinanthi.html oleh Mas lilliperry🙂

One thought on “Rindu. Berlebihankah?

  1. Pingback: Galaksi Kinanthi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s