Jo hanyalah jelata

Sebelumnya : Daerah bernama Absurdis

***

Jo berpikir, “Lumayanlah bisa dateng ke lingkungan Kerajaan, diundang pulak, bisa ketemu Putri Ra pulak. Ihiw! Eh tapi kalo di pikir-pikir lagi, ngapain aku dipanggil ke Istana Kerajaan ya, apa karena aku baik hati, tidak sombong, dan rajin menabung ya? *mulai narsis :-<*“. Kemudian Jo menerawang, mengkhayalkan kemungkinan-kemungkinan yang akan dikatakan oleh Raja.

“Hey, Tukijo! … Jo! Hoy! Kita sudah sampai. Kamu lagi bengong apa laper? Meuni celangap gitu”, pengawal mulai curiga, Tukijo yang diminta dicarikan oleh Raja apakah bener Tukijo yang ini atau bukan ya. Kok kelakuannya rada-rada :-S

“Oh, eh. Iya Kang, maap, tadi aku terpesona keindahan alam daerah Absurdis ini aja si, jadi ternganga gitulah bahasanya. *jayus*“, jawab Jo.

***

Pengawal mempersilakan Jo menunggu sebentar di Lobby Kerajaan Kabita. Lalu datanglah kembali sang pengawal, mempersilakan Jo masuk ke ruang pertemuan, disana sudah menunggu sang Raja dan sang Putri Ra. Wew, ada Putri Ra turut serta?

“Silakan duduk Tukijo. Begini, saya sudah melihat track record kamu selama kamu menjadi rakyat daerah Absurdis. Tentu saja semua perilaku baik dan buruknya menurut hukum dan keseharian kamu sudah tercatat. Jangan tanyakan pada saya bagaimana semua hal tersebut dapat tercatat, karena saya pun tidak tau, saya menyerahkan sepenuhnya pada pihak yang berwenang. Dan, tujuan saya memanggilmu kesini adalah, saya ingin kamu menjaga Putri Ra untuk bepergian ke sebuah daerah yang melewati Hutan Raya, Gunung Tinggi, dan Lembah Landai. Ada sebuah penelitian yang harus dilakukan oleh Putri Ra. Kamu boleh mengajak temanmu Jaka, tapi jangan pernah biarkan Jaka pergi berdua dengan Putri Ra. Saya percaya denganmu. Saya tau, kamu pintar, dan kamu tidak akan macem-macem dengan putri saya. Mengerti?”, jelas Paduka Raja panjang kali lebar kali tinggi bagi dua.

“Muhun Paduka Raja. Mohon maaf sebelumnya, mungkin aku aga kaget dengan pemanggilan ini, tapi, sebagai rakyat yang baik, akan aku patuhi perintah Paduka Raja. Dan akan aku jaga Putri Ra selama di perjalanan dan akan kukembalikan sebagaimana pertama kali aku menjaganya”, sambil sedikit melirik Putri Ra. Kapan lagi coba bisa satu ruangan sama Putri Ra. Grogi sih dari tadi diliatin putri Ra mulu. *kepedean*

Singkat cerita..

Jo suka sama Putri Ra. Putri Ra pun suka dengan kesederhanaan, kesetiaan, dan wawasan Jo yang luas ketika membantu Putri Ra dalam penelitiannya, tapi Putri Ra lebih kesengsem sama Pangeran Rama. Selain karena memang dia sering putus nyambung sama Pangeran Rama, keluarga kerajaan Kabita juga udah kenal banget sama Pangeran Rama, yang mana dia itu masih kerabat. Pangeran Rama itu sodara sepupunya Pangeran Dira, sedangkan pangeran Dira itu adik dari kakak iparnya Pangeran Anjar, yang mana Pangeran Anjar itu kakak iparnya Putri Ra. *gak pusing kan? kan? KAN?*

Sekali lagi, Putri Ra suka dengan kesederhanaan Jo, tapi dia pun senang dengan Pangeran Rama yang udah nemenin dia dari kecil. Ngerasa kaya ada yang ngelindungin setiap saat. Dan, Jo, tau banget, kalo Putri Ra itu pasti jodohnya Pangeran Rama nantinya, tapi perasaan Jo gak bisa boong, dia suka sama Putri Ra. Mungkin lebih dari sekedar suka. Tapi Jo hanyalah seorang rakyat jelata, setinggi apapun rasa yang dimiliki Jo, ga akan pernah bisa ngerebut hati Putri Ra dari genggaman Pangeran Rama, dan Jo sangat sangat menghargai itu. Walaupun Jo selalu kikuk, gemeter, grogi saat harus berhadapan dengan Putri Ra. Ya gimana ngga, Putri Ra gitu loh, putrinya Paduka Raja dan Kanjeng Ratu kan? *ya terus kenapa :-<* ya pokoknya Putri Ra gitu loh!

Di sisi lain, ada seorang rakyat jelata lainnya, Wida. Dialah tetangga Jo. Setiap apa-apa yang terjadi dengan mereka pasti Jaka tau, secara Jaka temen deketnya Jo yang mana Jo selalu cerita apapun tentang Wida. Jo dan Wida pernah menjalin sebuah hubungan cukup lama, namun karena alasan tertentu, mereka yakin bahwa mereka bisa mengubah status mereka menjadi teman lagi asal Jo mau nyabutin banyak singkong karena itu kerjaannya Wida, dan Jo pun berujar, asal Wida mau nemenin dia nyari kayu bakar *lah kok terdengar gak adil ya, biarin deh!*

Sampe sekarang Jo dan Wida masih berteman. Ya, mereka benar-benar berteman, rasa peduli sesame mungkin masih ada, namun sebentuk rasa suka, sudah disimpan dalam-dalam di hati masing-masing.

Suatu hari, Jo mendengar dari Jaka, bahwa Putri Ra barusan melewati dia dengan kereta kerajaan seperti biasa. Tentu saja Jo antusias menanyakan bagaimana penampilan Putri Ra saat itu. Jaka bercerita, Putri Ra pergi bersama Pangeran Rama, setelah tersenyum pada setiap rakyatnya, mereka lalu bersenda gurau berdua, dengan wajah sumringah. Jo hanya tersenyum setelah mendengar cerita Jaka.

Jo tau, dia mulai benar-benar menyukai Putri Ra.

Sebuah rasa yang dalam …

Jo berpikir, oo gitu ya rasanya suka sama Putri Ra yang ternyata memang suka sepenuh hati (bukan setengah mati) sama Pangeran Rama. Putri Ra mungkin sedikit memberikan harapan kepada Jo, entah karena takut kehilangan, atau perasaan ingin memiliki tapi gak bisa, dan ada seseorang yang jauh lebih disukainya yaitu Pangeran Rama. Dan oo gitu ya rasanya kl udah ga suka sama Wida & Wida itu cerita suka sama Malih. Soalnya Jo biasa aja pas Wida cerita dia menjalin hubungan dengan Malih.

Mungkinkah Jo menjadi biasa dengan cerita Wida, karena di hatinya kini ada Putri Ra? Tetapi bagaimana dengan Putri Ra, yang sesekali menaruh harapan pada Jo hanya karena tidak ingin kehilangan kesederhanaan dan kebaikan hati Jo, ataukah Jo yang sebenarnya belum dapat menghilangkan rasa pada Putri Ra? Apakah itu pula yang dirasakan oleh Putri Ra, dia dengan santainya bercerita tentang Pangeran Rama pada Jo padahal Putri Ra tau, Jo menaruh hati padanya walaupun dengan catatan mereka gak mungkin saling menyatakan perasaan masing-masing. Ataukah Putri Ra sebegitu santainya bercerita soal Pangeran Rama, karena memang rasa sukanya pada Jo tidak sebesar dan sedalam apa yang dia rasakan pada Pangeran Rama?

Bagaimana bisa dikatakan kehilangan, jika memiliki pun tidak pernah.

Apakah sebuah rasa mengenal strata? Jo tau, tetap ada sebuah hukum yang membatasi sesuatunya. Daerah Absurdis tentunya memiliki hukum terhadap rakyatnya juga terhadap Keluarga Kerajaan itu sendiri. Sebagai rakyat yang baik, Jo tetap harus mematuhinya.

Jo mencoba memahami dari sudut pandang Puri Ra. Walau pikiran sudah mulai memahami, apakah hati dapat diajak kompromi?

2 thoughts on “Jo hanyalah jelata

  1. Pingback: Daerah bernama Absurdis
  2. Perasaan cinta tdk pernah dibedakan krn status sosial, ttp klo aku ambil kesimpulan dari cerita diatas, krn dari masing” individu tdk terucap akan ketertarikan diantara berdua & hanya ada perasaan dlm hati. Masing” individu hanya memperkirakan diantaranya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s