#dearBapak: Ingatanku Tentang Bapak

Dear Bapak,

Aku terbiasa memanggilmu Bapak, bukan Ayah, Papi, Papa atau lainnya. Aku teringat waktu aku masih kecil, saat itu belum ada adik. Aku masih menjadi anak tunggal. Aku ingat saat-saat Bapak membawaku ke Kebun Raya dengan dorongan bayi, saat umurku mungkin sekitar 4 tahun waktu itu. Bapak juga sering menggendongku diatas pundak sehingga aku merasa aku lebih tinggi dari semua orang, aku senang sekali Pak.

Aku sering mendapat hadiah boneka dari om dan tante, tapi entah mengapa aku tidak begitu menyukai boneka. Akhirnya pun hanya mama pajang saja di rak. Sampai Bapak membelikan aku Tamiya. Ya, tamiya, sebuah mainan anak laki-laki berwarna orange, yang kini aku kenal namanya sebagai Neo Burning Sun. Wow, aku sungguh senang dapat mainan keren seperti itu dari Bapak. Dengan mata berbinar-binar aku mulai melihat-lihat tamiyaku, yang ku tempeli dengan sticker Saint Seiya.

Bapak sungguh keren. Bapak waktu itu sampai membuatkan aku track dari triplek, supaya aku bisa balapan dengan sepupuku yang dibelikan tamiya juga, bedanya dia warna biru, karena dia lelaki. Bapak membuatkan kami dua track, elips biasa saja, tapi itu sudah keren sekali buatku.

Bapak memang pintar berkreasi. Aku selalu tertarik dengan barang-barang hasil kreasi Bapak. Lain hari, Bapak membelikanku mainan mobil-mobilan yang bisa aku kendarai dengan cara di gowes. Lengkap dengan tuas rem dan klaksonnya, wahh, serasa aku benar-benar memiliki mobil waktu itu. Aku tau, mainan yang Bapak belikan bukan barang baru, namun Bapak belikan di tukang loak, dan Bapak reparasi lagi sendiri, dan aku tidak peduli soal itu barang baru atau bukan, yang aku tau aku punya mainan yang diberikan oleh Bapak🙂 Dan kali lainnya, aku mendapatkan kursi goyang buatan Bapak, malah kadang aku tertidur diatas kursi goyang itu sampai lelap. Bapak pun sering membuat alat-alat rumah tangga sendiri, misalnya meja setrikaan, kaki-kaki untuk pot bunga, kipas angin yang dibeli di loak dan kemudian diperbaiki, kompor yang juga dibeli dari loak namun ternyata masih bagus fungsinya setelah diperbaiki. Bapak pun punya sense of architecture. I love that!

Dari dulu aku selalu merasakan kalau aku lebih dekat dengan Bapak daripada dengan mama. Walaupun adikku sudah lahir, aku selalu lebih dekat dengan Bapak. Lucunya, dulu aku sering sengaja tertidur di depan televisi sambil menunggu Bapak pulang, supaya nantinya aku tau Bapak pulang karena aku pasti akan digendong untuk dipindahkan kekamar. Ah, betapa manjanya aku waktu masih kecil. Bahkan Bapak tau, kalau aku suka sekali dielus-elus punggungnya hingga aku terlelap. Aku pun suka mencicipi kopi hitam punya Bapak sedari aku kecil ;p

Bapak,

Taukah Bapak, saat aku kelas 2 SD, aku sampai hafal not lagu Ayah dari Rinto Harahap dengan mini keyboardku. Setiap hari aku mainkan not lagu Ayah tersebut, sampai-sampai nenekku bingung, lagu Ayah kan sedih, sedang mencari Ayahnya dimana, padahal Bapak selalu pulang setiap hari, aku pun tidak tau, yang aku tau, aku hanya hafal lagu itu, dan aku sangat menyukai lagu itu🙂

Hmm, pernahkah aku berkata aku sayang Bapak ketika aku kecil dulu? Aku tidak ingat untuk urusan itu. Tapi jauh dari lubuk hatiku yang terdalam, aku sayang Bapak. Sangat sayang. Mungkin tidak pernah terucap, tapi aku sayang Bapak. Aku jadi ingat, waktu ada anjing lepas dirumah nenek, dia naik-naik ke badanku yang mungil itu, dan aku menangis tetapi aku tidak bisa berbuat apa-apa, kaku, dan satu-satunya kata yang dapat terucap hanyalah, “Bapak, Bapak..”, hanya itu saja. Hingga orang rumah datang dan mengusir anjing itu. Tetapi aku masih gemetaran.

Entah kenapa aku hanya dapat menyebut kata Bapak waktu itu. Aku pun tidak mengerti, spontan saja.

Bapak, setelah aku besar dan dewasa, aku mulai mengerti hubungan keluarga, bukan hanya soal aku dan adikku, tapi soal keluarga, ada mama, nenek dan lainnya.

Lambat laun, aku mengerti betapa tidak mudah menjalani kehidupan. Tetapi Bapak selalu bijaksana dalam menghadapi segala permasalahan. Bapak yang selalu mengajarkan aku untuk selalu melihat masalah dari berbagai sudut pandang. Bapak yang selalu mengajarkan aku untuk selalu diskusi, bukan berdebat. Bapak yang selalu mengajarkan aku budaya, sastra, dan psikologi, dan sampe sekarang aku sangat menyukai bidang-bidang itu.

Ketika banyak orang meminta keadilan, buatku mungkin keluarga kita saling melengkapi. Bapak yang tidak suka marah, kecuali hal yang sudah prinsip. Sedangkan mama sering sekali marah. Bapak yang selalu pandai menganalisis keadaan sehingga tau hal-hal apa saja yang masih bisa dibicarakan dan hal-hal mana saja yang memang butuh tindakan cepat. Sedangkan mama kadang terlalu cepat bertindak dan akhirnya ceroboh. Menurutku, mereka saling melengkapi, dan hanya perlu saling menghargai dan saling mengerti saja.

Bapak, you’re the best dad ever!

Bahkan aku pernah berujar, bahwa aku ingin memiliki pasangan yang bisa diajak diskusi seperti Bapak, mengerti soal kreatifitas, sastra, budaya, psikologi, dan asik diajak sharing tentang kehidupan.

Bapak tidak pernah terdengar mengeluh lelah.

Setelah dulu waktu aku masih kecil aku sering memainkan not lagu Ayah yang mana isinya adalah soal Ayah yang sedang dicari keberadaannya, padahal saat itu aku setiap hari bertemu Bapak, tapi mengapa aku harus memainkan lagu itu. Entahlah. Lalu kini, nampaknya lagu Ayah pas sekali untuk dimainkan.

Aku mulai jarang bertemu Bapak. Bapak selalu pulang larut malam karena memang tempat kerja Bapak jauh, dan harus ditempuh oleh kendaraan umum yang kadang terlambat atau macet atau apalah. Ada kalanya aku berhari-hari tidak ketemu Bapak, karena saat Bapak pulang, aku sudah terlelap, dan saat aku bangun tidur, Bapak sudah pergi lagi paginya. Mungkin Bapak juga merasakan hal yang sama yang aku rasakan, aku kangen ngobrol banyak sama Bapak.

Bapak, kini Bapak semakin kurus saja, hal apa sajakah yang sedang bernaung di dalam pikiranmu? Aku jarang melihat Bapak murung, bahkan aku selalu melihat Bapak bercanda dan isengin aku atau adik saat kami lagi di kamar. Tetapi mengapa aku mulai melihat raut wajah yang tidak sesegar dulu lagi, Pak?

Bapak lelah, aku hanya tau Bapak lelah, walaupun aku tidak pernah sama sekali mendengar Bapak mengeluh lelah. Bapak bilang, “Wajar mba kalo kita merasa lelah, manusiawi, namanya bekerja atau melakukan aktifitas ya pasti ada rasa lelah, hanya saja, jangan sampai rasa lelah itu yang mengontrol diri kamu, harusnya kamu yang bisa mengontrol rasa lelah itu. Jangan pernah merasa lelah ketika kamu memang wajib melaksanakannya, jalankan saja tugasmu dengan tanpa mengeluh, maka pekerjaanmu akan cepat selesai dan dengan hati yang lega pula :)” Adem rasanya ketika Bapak berkata seperti itu.

Bapak, aku selalu menyayangimu segenap jiwaku. Aku selalu mengingat semua nasehatmu. Bapak, suatu saat nanti, aku akan berusaha menjadi kuat seperti Bapak, aku akan selalu semangat menjalani kehidupan ini, dan aku ingin selalu membahagiakan Bapak🙂

I love you, Bapak!🙂

Best Regards,

Tanti

Your lovely eldest daughter.

***

tulisan ini dimuat di buku Dear Papa jilid 6 dengan daftar isi dapat dilihat disini.

One thought on “#dearBapak: Ingatanku Tentang Bapak

  1. Pingback: #dearBapak: Get Well Soon

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s