Sepucuk Surat

Sepucuk surat yang tak sengaja kutemukan terselip di sebuah novel lama yang sedang kubaca di perpustakaan kecil ini. Tertulis, tanggal 18 Januari, sudah agak terkoyak sehingga tahunnya tidak begitu jelas. Surat ini ‘memaksaku’ untuk terus membacanya hingga akhir. Kubaca sekali lagi, kalimatnya seakan menghipnotisku untuk tidak menghentikan membacanya di tengah paragraf. Siapakah tokoh yang ada didalam surat ini, sepertinya surat ini sudah cukup lama dibuatnya, kertasnya sudah mulai menguning, tintanya pun sepertinya sudah sangat menyerap kedalam kertasnya.

Aku ingin mencintai dan dicintai dengan tenang, tanpa ragu, tanpa lelah, tanpa repot. Aku ingin merasakan kehangatan matahari dari dua sisi. Mungkin cukuplah waktu itu aku mencurahlah seluruh apa yang aku rasakan kepadamu. Ya, cukup itu saja. Tidak perlu ada kelanjutan yang memiliki arti. Karena memang kelanjutan yang berarti itu takkan pernah ada.

It never existed. Mungkin kamu akan berpendapat bahwa aku menghindar darimu. Di sisi lain mungkin kata-kata itu benar, tapi di sisi yang lainnya lagi, aku hanya peduli pada hatiku saja. Jujur aku lelah, aku tidak tenang, dan aku ragu. Katakan padaku jika kamu punya alasan untukku bertahan atas perasaan tak berujung dan nantinya pasti tak bermakna ini.

Mungkin dulu kau pernah menghujam jantungku dengan seketika, namun tanpa sadar kini kau iris hatiku perlahan. Aku tidak menyalahkanmu. Aku tidak akan pernah menyalahkanmu. Aku hanya heran mengapa rasa ini begitu hebatnya untukmu. Walau nyatanya untuk apa menyukai seorang pria yang memiliki cinta sepenuh hati untuknya? Untuk apa menangisi kepergian orang yang sedang mencoba membina hubungan lagi dengannya? Untuk apa memikirkan pria yang bahkan keseluruhan sistem otaknya sudah terpatri namanya untuk selalu dipikirkan sepanjang hari.

Sungguh aku lelah menjalani keadaan seperti ini. Memikirkan hal yang tidak seharusnya dipikirkan, merasakan hal yang seharusnya tidak sedalam ini. Aku sedang lelah memikirkanmu yang sedang memikirkan dirinya.

Aku hanya ingin mencintai dan dicintai dengan tenang, tanpa ragu, tanpa lelah, tanpa repot. Itu saja.

9 thoughts on “Sepucuk Surat

  1. bagaimana pun, sesiapa yang mencinta, selalu berharap mendapatkan cinta yang sepenuh hati, dan tidak pernah setengah hati🙂🙂

    memang sulit untuk melepaskan, tetapi akan lebih sulit lagi untuk ‘bertahan’ di atas ‘perahu’ yang bergoyang hebat di arus air yang kuat,🙂

  2. Pingback: Kadang lucu
  3. Pingback: Kadang Lucu | SimplyGonzi @Ngerumpi.com
  4. Pingback: Kadang Lucu | Bisikan Senja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s