Madre

Ada yang udah beli buku Kumpulan Cerita baru dari Dewi Lestari? Iya Madre! Yang belum beli atau baca ya gapapa juga sih, cuma pengen tanya doang. *plakk!!*

Aku salah satu fansnya Dee, setelah dia nulis Filosofi Kopi, Rectoverso, Perahu Kertas, wis itu aja, entah kenapa aku nggak gitu suka Supernova dan kawan-kawannya, agak terlalu berat apa gimana ya, dulu itu pas pertama aku liat. Haha, dudul. Padahal kata orang-orang tu buku bagus banget. Ya ya, relatif sih ya.

Waktu tau Dee bakal ngeluarin buku baru, wah, udah pasti beli inimah, dan harap-harap cemas nungguin kapan timing pre-ordernya, soalnya nggak mau ketinggalan. Beruntunglah infonya cepet didapet, dan langsung PO di toko buku online. And well, Madre dengan cepat ada di tangan, beserta signaturenya Dee dan gantungan kunci Madre🙂 Yay!!

Seperti Filosofi Kopi, cerita pertama di bukunya pasti sebuah cerpen dengan judul yang sama dengan bukunya. Iya, cerita Madre ditaruh dibagian awal buku. Unpredictable banget. Dan bikin nggak berenti sampe cerita Madrenya selesai. Di kata pengantar, Dee menulis begini,

Satu peringatan sebelum Anda memulai membaca: tidak semua perenungan itu berujung pada jawaban. Seringkali, malah pertanyaan barulah yang lahir. Tak mengapa. Bagi saya, hidup adalah proses bertanya. Jawaban hanyalah persinggahan dinamis yang bisa berubah seiring dengan berkembangnya pemahaman kita. Namun pemahamanlah yang membuat kita terus maju.

Iya, buku yang nyastra model begini ini yang kadang-kadang harus dibaca dua kali buat tau maksudnya apa, atau aku yang rada dodol ya😀 Dee punya imajinasi tinggi dan buat cerita yang nggak umum dibicarakan banyak orang nowadays. She’s unique, dan karyanya pun unik. Selalu bikin penasaran atau setidaknya bergumam dalam hati, ini sebenernya arahnya kemana ya, ujungnya kaya apa sih🙂

Cerita dengan judul Madre, menceritakan seseorang bernama Tansen, dia merasa ada sebuah sejarah yang tidak pernah dia ketahui mengobrak-abrik segalanya yang selama ini dia ketahui tentang dirinya sendiri. Darahnya mendadak seperempat Tionghoa, neneknya ternyata seorang penjual roti dan nenek bersama seorang kakek yang tidak dia kenal. Lalu mereka mewariskan anggota keluarga baru yang tidak pernah Tansen ketahui, Madre.

Okay, just enjoy sedikit kutipan dari cerita Madre. Hanya beberapa dialog sebagian kecilnya aja kok🙂

Kutipan: Madre
Pak Hadi: “Saya tahu kamu ndak kenal sama Si Tan, saya tahu kamu bingung. Banyak yang perlu saya ceritakan. Toko sudah ndak ada untung, cuma cukupan buat gaji pegawai, tapi Tan bertahan terus. Katanya Madre jangan dibikin nganggur.”
Tansen: “Madre?”
Pak Hadi: “Karyawan disini cuma lima orang. Bisnis nyusut terus. Lama-lama kami kerja ndak digaji. Akhirnya nyerah juga dia. Ndak tega sama kami. Yang penting Madre jangan mati. Itu saja yang kami jaga.”
Tansen: “Madre itu siapa, Pak?”
Pak Hadi: “Tan bilang, Madre mesti dirawat orang muda yang semangatnya baru. Orang ndak sembarangan, yang memang punya hubungan langsung sama Madre.”
Tansen: “Jadi Madre itu masih famili saya maksudnya?”
Pak Hadi: “Kamu pernah bikin roti? Kelihatannya sih ndak ya.”
Tansen: (menggeleng)
Pak Hadi: “Nah kan? Bagaimana mungkin Madre diurus orang awam coba? Tapi yasudah, kita mesti hargai maunya Tan. Sini saya kenalken sama Madre.”

Dan cerita selanjutnya yang paling aku suka adalah judul Menunggu Layang-Layang. Sebenernya sebagian cerita ini pernah dipublish tahun lalu karena menjadi cerita di sebuah sayembara menulis di L’oreal Paris-Writing Competition. Dee mempublish sebagian cerita Menunggu Layang-Layang untuk kemudian dilanjutkan untuk para peserta sayembara. Tentu saja yang ada di buku Madre ini adalah versi aslinya dari Dee, karena ada beberapa versi ending karena ada tiga pemenang sayembara itu.

Menunggu Layang-Layang menceritakan tentang cinta dan persahabatan. Bagaimana perjuangan seorang sahabat yang selama ini menjadi ‘tempat sampah’ berbagai cerita unik, aneh dan macem-macem dari sahabat baiknya. Ada beberapa analogi yang catchy banget didalam cerita ini. Nice!

Well, nikmati beberapa dialog dari cerita Menunggu Layang-Layang🙂

Kutipan: Menunggu Layang-Layang
Che: “Dua hari kemarin adalah kesalahan terbesar dalam hidupku. Kita sama-sama tahu ini akan berakhir seperti apa. Aku bukan yang kamu cari. Kamu bukan yang aku cari. Kita kembali kayak dulu lagi. Oke?”
Starla: “Kamu bercanda kan, Che?”
Che: “Kalau kita teruskan – apapun itu, dua minggu, paling lama tiga minggu lagi, aku yang bakal pasang tenda di depan apartemenmu. Ngemis-ngemis supaya kamu sudi menerimaku. Dan kalau udah begitu, kamu mau lari ke siapa lagi Star? Aku satu-satunya tempat sampahmu selama ini.”
Starla: “Dan … kamu lebih memilih jadi… tempat sampah?”, Starla terbata.
Che: “Posisi itu sudah kujalani dengan baik selama empat tahun. Aku nggak pernah keberatan. Cuma dengan begitu kita nggak saling menyakiti. Jadi, iya, lebih baik kita kembali kayak dulu.”
Matahari di bola mata itu padam seketika. Berganti dengan air yang menumpuk di pelupuk, terus membuncah hingga menetes satu demi satu, dan akhirnya membanjir.

Karena ini adalah buku Kumpulan Cerita, nggak banyak waktu yang dibutuhkan untuk menghabiskan semua cerita didalam buku Madre. Dan dua cerita diatas adalah cerita paling favorit untukku, dan bukan berarti cerita lainnya nggak menarik, nggak sama sekali, contohnya aja, ada cerita berjudul Guruji, sebuah cerita unik tentang melepaskan, sehingga dengan begitu tidak perlu merasa kehilangan, dan sebuah cerita dengan judul Barangkali Cinta yang ditaruh sebagai judul penutup buku Madre🙂

2 thoughts on “Madre

  1. dua ‘sedikit’ persamaan antara madre dengan supernova bagian akar.
    1. ada detil tentang’sesuatu’, kalo di madre ttg sesuatu yg berhubungan dengan roti, di akar adalah tentang proses pembuatan tatoo
    2. ada satu nama tokoh yang sama ; star😀

    dan iya keren, imajianasinya halus namun terkadang liar hehe

    • wah aku ga baca supernova yang akar😐 sepertinya nanti mesti liat-liat lagi deh bukunya dee yang lama-lama😀 hooo ada tokoh itu juga ya.. hehe..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s