Ethnic Runaway: Suku Bercu, Desa Lawin, Sumbawa Besar, NTB.

Minggu, 18 September 2011 sekitar pukul 3 pm, saya tak sengaja menonton kembali acara Ethnic Runaway, yang kebetulan dibawakan oleh Restu Sinaga dan Kirana Larasati. Mereka melakukan perjalanan ke Suku Bercu di Desa Lawin, Sumbawa Besar, NTB. Dalam perjalanan menuju Desa Lawin, mobil kru sempat jatuh ke jurang, tidak ada korban jiwa, namun jadi agak terhambat karena harus menarik kembali mobil yang tersungkur. Perjalanan kembali dilanjutkan, namun ada hambatan lain, agak sulit untuk melewati jalanan dengan tekstur tanah agak becek dan tanah yang lembek, sudah dicoba ditarik dengan truk namun tidak bisa. Akhirnya Restu dan Kirana dibawa dengan menggunakan kuda. Ya, mereka menuju Desa Lawin dengan menggunakan kuda.

Sesampainya ‘katakanlah’, menuju kediaman Suku Bercu, mereka disambut dengan kepala suku, dan mereka harus menyaksikan ritual Tampik. Ritual ini menentukan siapa yang boleh masuk duluan, entah Restu atau Kirana. Dalam ritual ini, ada dua orang wanita yang duduk bersimpuh dengan bersama-sama memegang Tampik (atau saya lebih mengenal dengan Tampah). Tidak lama kemudian, Tampik terlihat bergeliat kesana-sini dengan sambil dipegang oleh kedua perempuan tadi, sampai akhirnya Tampik berhenti, dan keputusan akhir adalah, Kirana yang berhak masuk duluan, baru diikuti yang lainnya. Lalu mereka dilempar-lempari dengan sejenis beras katanya agak tidak kerasukan. Setelah masuk kawasan Suku Bercu, Restu dan Kirana disambut oleh ritual adat, yakni Gentao, ada salah seorang lelaki yang mengajak berkelahi Restu untuk melawannya hingga mereka boleh masuk. Setelah lelaki tersebut jatuh, maka mereka masuk.

Sebelum masuk ke dalam rumah, ada ritual Selontang, yakni ritual seorang tabib yang memberikan ramuan agar dihindari dari roh jahat. Setelah itu mereka masuk ke dalam rumah, dan berbincang-bincang dengan Suku Bercu. Agar Restu dan Kirana sama dengan warga Suku Bercu, maka mereka diwajibkan untuk mengganti pakaian mereka. Lalu diserahkan kepada bapak angkat dan ibu angkat. Suku Bercu tidak pernah menggunakan sendal, maka dari itu, Restu dan Kirana pun tidak diperkenankan menggunakan sendal/alas kaki untuk beraktivitas di kawasan tempat tinggal Suku Bercu.

Sesampainya di kediaman tempat dimana bapak angkat, ibu angkat, Restu dan Kirana tinggal, diadakan ritual Berasak, yaitu ritual untuk meratakan gigi. Hampir mirip dengan ritual orang-orang Bali. Kirana sampai nangis tidak ingin giginya diratakan oleh sebuah kikir berbentuk batu. Malamnya, bapak membuat sejenis rokok yang di linting, dan apinya dinyalakan dengan cara mengetuk-ngetuk kedua buah batu. Menarik, dan Restu tidak bisa menyalakan apinya dengan cara seperti itu. “Pakai lighter saja lebih mudah”, katanya begitu😀

Kirana tidak boleh berbincang-bincang hingga larut malam, ibu angkat menariknya untuk segera tidur, walaupun Kirana bilang hari belum terlalu malam, tetapi ibu memaksa, karena anak perempuan tidak boleh tidur terlalu larut. Keesokan harinya, karena tau bahwa Kirana telah selesai datang bulan, maka ibu melakukan ritual Luwu Mutung, yaitu ritual luluran setelah datang bulan, dan setelah luluran, ibu mengajak ke Uwe Salun, yakni ke air pancuran untuk membasuh lulur. Karena airnya dingiiiin sekali, Kirana tampak menggigil. Dia bilang, dingin sekali. Lalu ibu bilang mesum! Kirana kaget, “Hah? Mesum?”. Ternyata mesum itu adalah bahasa Suku Bercu untuk bilang dingin😀

Gambar diatas adalah gambar sebuah padang rumput tempat mengejar kuda, semestinya hanya kaum lelaki saja yang boleh mengejar kuda, tetapi Kirana ingin ikut mengejar kuda, jadi tampaklah scene bapak angkat, Restu dan Kirana lari-larian berusaha menangkap kuda, setelah sekian lama, barulah kuda dapat dikejar dan ditangkap. Lalu diikat dekan kandang, dan susunya diperah. Kirana dan Restu tentunya mencoba untuk memerah susu walaupun kuda sempat marah, dan mereka pulang, lalu meminum hasil perahan susu kuda yang tadi diperah oleh bapak angkat, Kirana dan Restu.

Sayangnya saya ngga nonton acara Ethnic Runaway hari ini sampai selesai. Hanya menonton sampai scene itu saja, tidak menyaksikan bagaimana Restu dan Kirana pamit pulang dari Suku Bercu. Melihat berbagai keindahan alam yang ditawarkan di Sumbawa Besar itu, ingin rasanya mandi di pancuran air atau Uwe Salun itu, walaupun katanya airnya dingin sekali, mungkin seperti di Bandung saja ya rasanya. Banyaknya ritual yang perlu diikuti dari adat Suku Bercu membuat saya perlu berpikir banyak jika suatu hari mungkin kesana😀

One thought on “Ethnic Runaway: Suku Bercu, Desa Lawin, Sumbawa Besar, NTB.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s