The 2nd Extravaganza IPB

Minggu, 9 Oktober 2011 (nice date anyway!) diselenggarakan acara The 2nd Extravaganza, Espresso feat Pujangga adalah sebuah seminar bertajuk “Be an Entrepreneur and Cath the World Through the Words”. Seminar ini dibagi menjadi tiga sesi. Pada sesi satu yang bertajuk “Discover and Find the Spirit of creativepreneur” diisi oleh Rangga Umara (CEO Pecel Lele Lela), Muhammad Lukman (Owner Batik Fractal), Fessy Alwi (Presenter MetroTV) sebagai moderator.

Dalam sesi satu tersebut, yang telah diawali oleh Fessy Alwi sebagai moderator, seminar pertama diisi oleh Muhammad Lukman sebagai Owner of Batik Fractal. Seinget saya, jaman kuliah dulu – ceileh – seorang dosen matkul Komputer Grafik pernah menceritakan soal Fractal. Waktu itu sih yang saya tangkep, fractal itu adalah sebuah pola yang dipelajari dari pola yang sudah ada untuk kemudian nantinya akan digunakan kembali dengan lebih mudah? – mbulet? – baiklah, begini, misalnya saya punya pola dalam satu image, di dalam image itu ada beberapa pola, katakanlah ada bulet-bulet kecil, ada bulet-bulet besar, ada garis-garis meliuk-liuk yang semuanya itu mungkin untuk berulang di pixel lain dalam satu image tersebut. Nah, fractal ini nantinya akan disatu-satukan kembali menjadi sebuah pola baru yang membentuk image baru. Dalam idenya  Pixel People Project, mereka membuat Batik Fractal Indonesia. Menggabungkan fractal dan matematika dalam sebuah software bernama jBatik berbasis Java language. Menarik. Sangat menarik, mengingat dulu setelah dosen tersebut menjelaskan fractal, maka tugas akhirnya adalah membuat satu objek tiga dimensi dengan menggunakan bahasa C++😐 and you know? Berani-beraninya (baca: dengan nekatnya) saya membuat the Simplest Eiffel Tower hanya dengan menggunakan bahasa C++😐

Okay, lalu Muhammad Lukman ini menjelaskan bagaimana menggunakan jBatiknya lalu setelah itu dilakukan proses pencetakan. Nah, selanjutnya terserah apakah pola batik tersebut akan dicanting atau dicap. Mahal? Karena memang harus mahal, karena batiknya adalah handmade, bukan seperti batik-batik Cina yang murah🙂

Yak anyway, the show must go on, selanjutnya CEO Pecel Lele Lela, Rangga Umara membicarakan mengenai bagaimana caranya agar saya, anda dan kita semua tidak merasa bahwa segala sesuatunya akan baik dengan berfikir terus menerus. Karena dengan berfikir tanpa tindakan, tidak pernah bisa mengukur seberapa jauh saya melangkah, seberapa jauh saya sudah berusaha. Sungguh kalimat yang makjleb! Langsung ke hati terdalam😐 Kalimat yang saya ingat dari Rangga Umara tadi adalah, ada Impian, Cinta dan Komitmen. Ketiga komponen tadi harus kita miliki dalam menuju kesuksesan. Lalu kalimat lain yang paling saya ingat adalah, “Mulailah membuat rencana sendiri, atau hidup kita akan direncanakan orang lain. Mulailah dari akhir, sehingga tau tujuannya apa. Jangan pernah membandingkan hidup kamu sekarang dengan yang akan datang dan takut akan kegagalan”. Oukay, the other jleb jleb!!
Pecel Lele Lela adalah sebuah tempat makan dengan bahan utama Lele *yaiyalaaahhh*. Kenapa disebut Pecel Lele Lela, ternyata Lela itu bukanlah nama kerabat, istri, anak atau apalah, tapi Lela itu adalah Lebih Laku. Kata Rangga Umara, itu adalah sebuah doa yang ditanamkan pada sebuah nama usaha dia, agar lebih laku dan seterusnya begitu. Pengalaman pertama membuka Pecel Lele Lela, tempatnya sempit, uang sewa 250ribu/bulan, dan sepi pengunjung. Lima bulan berjalan, hasilnya minus. Desperate? Tidak. Rangga mencari tau apa yang salah dengan usahanya, nampaknya posisi tempat sangat berpengaruh, sampai akhirnya dia pindah tempat, dan laku. Lalu sampai sekarang di seluruh Indonesia, Pecel Lele Lela telah memiliki puluhan tempat makan dan memiliki omzet yang sangat besar, hingga milyaran per bulan. Inspiratif!
Lalu setelah itu sesi dua, Pak Bus dari Kementrian Perindustrian membicarakan mengenai “Peran generasi muda dalam menghadapi Persaingan Global” dengan moderator Dosen FEM IPB. Mohon maaf pada bagian ini saya agak mengantuk, hihihi. Padahal Pak Bus dan Pak Moderator membicarakan secara statistic bagaimana perindustrian di Indonesia, mungkin lain kali slidenya agak lebih ngga kaku gitu kali ya pak yaaa.. Peace Love and Gaul!!!😀

Naaaahhhh, ini dia nih sesi yang ditunggu-tunggu para peserta dan undangan Seminar The 2nd Extravaganza ini. Sebelumnya diisi dengan aksi hiburan, dua orang gitaris dan satu vokalis, lumaan keren suaranya! Dan di sesi tiga ini adalah sesi pujangga “Be an Inspiration Through the Words” yang diisi oleh Raditya Dika (Penulis/Blogger), Donny Dhirgantoro (Penulis), Nycta Gina(Presenter), sebagai moderator. Diawali dengan suara khas Nycta Gina memulai sesi tiga ini dengan ceria menggoda-goda para peserta seminar, lalu peserta ramai tertawa bersama-sama. Setelah itu barulah dari tirai kanan dan kiri muncul Donny Dhirgantoro dna Raditya Dika. Satu auditorium langsung membahana, ramai sekali tepuk tangan riuh melihat cengar-cengirnya Raditya Dika. Mungkin acara StandUp Comedy sangat membekas di ingatan para peserta sehingga sudah tentu Raditya Dika yang kocak serta dengan moderator Gina lalu ada mas Donny pasti membuat seluruh peserta terpingkal-pingkal.

Radit bener-bener “menghancurkan” panggung talkshow tadi. Sumpah ancur bgt! Gabungan seminar dan StandUp Comedy dadakan sih saya rasa. Asli sampe pegel ketawa. Padahal yang dibahas adalah soal buku, tulisan, awal menulis, penerbitan, royalty, dan lain sebagainya yang mungkin sudah sekian lama saya mendengar tentang beberapa hal itu. Akan ada arah menuju ke kepenulisan seperti mereka, cuma mungkin hati saya belum kuat untuk melangkah, dan terasa sangat makjleb tadi ketika Rangga Uara berbicara. Sigh!

Anyway, back to the topic. Sesi tiga ini sulit diceritakan dengan detail, karena sesinya amat sangat santai, riuh tawa membahana di seluruh ruangan, bahkan penanya pun sempet digangguin sama Radit. Ampuuunnn!! Tapi ada kalimat yang paling saya ingat dari Radit, “Paling ngga kamu buat tiga draft. Draft pertama, tuangkan apa yang ada di kepala kamu, lalu draft dua dikurang-kurangi yang ngga perlu dan ditambahin yang perlu. Dan draft ketiga adalah penyempurnaan. EYD nomor dua, yang penting kuantitas”, setidaknya itu menurut Radit. Lalu dia pun berbicara begini, “Lebih baik kamu menulis jelek daripada tidak menulis sama sekali. Menulis jelek seratus halaman, nantinya akan menjadi sekitar 60 halaman bagus, dan mungkin akan jadi 30 halaman sempurna, setidaknya kamu menulis.”

Pembicara selanjutnya adalah Mas Donny yang ngaku-ngaku kelahiran tahun 1992 tapi mengirim draft novel pake disket. Lahir di jaman apa Mas sebenernya? :)) Saya pernah menghadiri seminar Donny Dirgantoro waktu tahun 2007. Waktu itu Pujangga dibuat satu acara seminar terpisah, tidak disatukan dengan Espresso seperti saat ini. Waktu itu Donny berbicara panjang lebar mengenai 5cm yang sangat inspiratif buat saya. Dan kehadiran Donny tadi sebetulnya agak tenggelam dengan kehadiran Radit. Tapi mereka sungguh “menghancurkan” panggung talkshow sesi tiga se-ancur-ancurnya!!

Super!

6 thoughts on “The 2nd Extravaganza IPB

  1. tampaknya Kementrian Perindustrian harus menghire kamu dalam urusan bikin slide yg ga bikin ngantuk
    eh sebagai tahap awal, ajarin saya dulu gimana:mrgreen:

    dan acaranya tampaknya keren euy😐

  2. wah, ulasannya bikin menyesal ga dateng ke sana kemaren. hiks..
    tiga draft (dari Radith), akan slalu saya ingat nih.
    “Lebih baik kamu menulis jelek daripada tidak menulis sama sekali.” setuju..🙂

    nice review!😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s