#dearBapak: Get Well Soon

Ada sebuah sms masuk tadi sore, “Mba, I think u have to remind ur father deh, dya mesti jaga kesehatan, jgn terlalu cape, bpk tekanan darahnya tinggi, kolesterol tinggi, asam urat tinggi, my papa told me.. I’m just worry about him”. Sms itu dari adik sepupu saya, anak dari Papi Endang. Tentang sebutan untuk beberapa om saya, pernah saya tuliskan dalam sebuah cerita tentang Bude.

Sebuah sms yang agak sedikit bikin kaget sih, mengingat itu sms dari sepupu saya. Setelah kita smsan, barulah saya tau, bahwa Bapak tadi siang ke dokter lagi, dianterin sama Papi Endang. Ya, Bapak memiliki tekanan darah tinggi, kalau tidak salah, ketika saya mengantarkan beliau ke dokter, tekanan darahnya mencapai 170/100 mmHg. Sampai dokternya pun bertanya-tanya, kenapa masih bisa jalan-jalan, segar seperti tidak sakit. Karena dengan tekanan darah seperti itu biasanya disertai pusing yang amat sangat. Dan Bapak pun memiliki asam urat yang meningkat, sehingga terkadang lengannya sering tak terasa, atau rasanya seperti kesemutan. Mungkin Bapak tidak terlalu dirasa-rasa kalau sakit. Padahal ya memang sering sekali pusing yang teramat sangat. Kedua kalinya saya mengantarkan ke dokter, tensinya 160/110 mmHg. Masih saja tetap tinggi. Sudah diminta cek darah, tetapi nyatanya baru tadi siang dijalankan. Dengar-dengar, tadi siang sudah mencapai 180😐

Saya, dan siapapun dalam keluarga, masih hangat mengingat kejadian tentang Bude (kakak Bapak) dan kami semua masih mengingat dengan jelas bagaimana beberapa bulan setelah kepergian Bude, ada seorang keluarga lagi yang jatuh sakit karena sakit yang mirip. Ayah, adik dari Bapak, dirawat di Rumah Sakit karena tidak sadarkan diri sejak sujud dalam sholatnya saat magrib. Pembuluh darah di otak pecah. Segera dilarikan ke UGD. Segenap keluarga trauma, beberapa bulan sebelumnya kami baru saja kehilangan Bude tercinta, dan saat itu Ayah terbaring lemah dengan segala peralatan, selang dimana-mana yang tersambung ke tubuh Ayah di ruang ICU. Sampai akhirnya harus menjalankan operasi.

Alhamdulillah beberapa lama setelah itu, Ayah diperbolehkan pulang. Tetapi tentunya dengan keadaan yang jauh sekali dari sebelumnya. Seperti kehilangan berapa persen dari daya ingatnya terhadap pekerjaan yang berat. Awal-awal pulang kerumah, Ayah terlihat terlalu serius dalam berdiskusi, padahal biasanya santai. Atau Ayah cenderung diam seperti sedang memikirkan sesuatu. Lalu memilih diam saja di kamar untuk sekedar merebahkan tubuh dan memejamkan mata sejenak sambil memegang kepalanya. Biasanya Ayah selalu bercanda dengan siapa saja. Sedih memang, melihat keluarga terdekat seperti itu. Namun kami patut bersyukur, Ayah pulang kerumah dan diberikan kesempatan untuk menjaga kesehatannya dengan lebih baik lagi.

Lalu sekarang, saya dan keluarga, masih trauma dengan kejadian-kejadian itu, dan tidak ingin sesuatu yang sama menimpa Bapak. Bapak perokok aktif, pun aktif minum kopi. Mungkin juga itu salah satu pemicu tekanan darah meningkat. Ternyata kolesterolnya pun tinggi. Oh Tuhan, berikan kesehatan pada Bapak. Semoga tekanan darahnya segera turun, semoga rencana rontgen penyakit dalam nanti lancar. Dan saya selalu mendoakan yang terbaik untuk Bapak.

Saya tadi sempat mengirim sms, mengingatkan untuk mengurangi merokok. Ingatkan untuk menjaga kesehatan, dan Bapak membalasnya dengan kalimat, Jangan lupa doakan Bapak ya Mba🙂 Mataku berkaca-kaca. Selalu kudoakan Pak, tanpa Bapak minta aku selalu doakan🙂 Banyak hal yang aku ingat tentang Bapak. Terkadang memori tentangnya sekelebat hadir.

Sebuah sms dari sang adik sepupu datang lagi, “Bapak udah ga boleh makan daging, goreng2, harus makan rebusan tadi abis cek darah. sabtu mesti balik lagi buat rujukan ronsen ke dokter penyakit dalam, fyi mba :)”. Bapak tidak bercerita apa-apa d isms tadi sore, entah mungkin memang tidak mau membuat saya kepikiran atau memang belum ingin cerita soal ke dokter tadi siang. Setidaknya sepupu saya sudah mengabari saya. Lalu segera saya forward ke ade yang kuliah di Bandung, agar ikut juga mengingatkan Bapak mengurangi merokok, minum kopi dan lainnya yang menjadi pantangan.

Cepat sembuh Bapak. Semoga tekanan darahnya tidak meningkat lagi🙂

2 thoughts on “#dearBapak: Get Well Soon

  1. Aduuh, kok gw jadi ikut sedih ya. Harus diawasi lebih ketat Tit, tekanan darah segitu udah jauh dari wajar. Kalo bisa semua yg ada dirumah ngikutin gaya hidup bapak yg disaranin dokter. Gausah ada minyak, kopi, asbak, dan semua hal yg ngasih ‘peluang’. Kebiasaan yg bertaun-taun emang susah diilangin (apalagi orang tua), tapi kalo semua anggota keluarga bisa ngasih contoh, itu bakal jadi motivasi tersendiri buat bapak. Bisa kan lu ga ngopi demi bapak? At least ga ngopi dirumah, biar bapak ga kabita

    Get well soon buat bapak ya

    • Ah elu dot, jadi sedih lagi kan gw😀

      Ternyata pas gw tanya lagi ke sepupu gw pastinya tensi siang itu berapa, katanya 190/110 mmHg. It’s high!😐
      Bapak tuh orang yang jarang keliatan ngeluh, jadi kadang ngga tau lagi sakit apa ngga. Kecuali kalo pusingnya ngga ketahan banget, baru rebahan, atau minum obat sakit kepala dulu baru tidur. Begitu aja terus.

      Kalo soal kopi, emang udah kebiasaan juga sih, satu hari lebih dari sekali ngopinya, plus ngerokok. Damn, I hate cigarette.

      Anyway, thanks ya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s