Tentang Rasa: A Quarter Life Crisis?

“Izinkanku lepas penatku
Tuk sejenak lelap di bahumu”
Astrid – Tentang Rasa

***

She said, here, “25 and still nothing. 25 and the ‘kapan’ things”. Ah, quarter life crisis (maybe). Hmm, actually, I’m a little closer to a quarter, but I’ve felt like “still nothing and all those ‘kapan’ things (the vicious circle)”.

Kamu selalu tau, kapan aku benar-benar melamun, dan kapan aku sedang diam menatap sesuatu sambil berpikir. Memangnya ada yang beda dari tatapan atau reaksi wajahku antara aku melamun dan sedang memikirkan sesuatu? Rasanya aku mengeluarkan ekspresi yang sama saja. Kamu tau, aku merasa berhasil menipumu ketika kau sedang antusias bercerita waktu itu sedangkan aku memasang ekspresi mendengarkan dengan antusias, padahal saat itu aku sedang memikirkan sesuatu, dan kamu tidak menegurku, dan kamu tidak berhenti berbicara, dan kamu mungkin tidak sadar, dan kamu … mungkin saja tau tapi sedang tidak ingin membahasnya.

Entahlah.

Nada bicara ketika kita melakukan percakapan di ponsel, bahkan kamu hafal bagaimana gaya tulisanku di sms ketika aku sedang ada pikiran, seringkali membuat kamu bertanya, “Are you okay, dear?”, dan biasanya di pertanyaan pertama, kedua, ketiga, aku selalu menjawab, “I’m okay”. Ah, women. Sometimes “I’m okay” means “I’m not okay, and just repeat that question”. Ada kalanya aku bercerita sendiri soal ada-apa-dengan-diriku, tetapi ada kalanya ingin ditanya, ‘Kamu kenapa?’. Again, women😐 “Ada kalanya” bukan berarti “seharusnya/selalu”, karena setiap orang membutuhkan “me-time” yang memang benar-benar tidak ingin diganggu saat itu, namun akan segera berbicara dan bercerita panjang lebar soal “Kamu kenapa?” nya saat itu.

Wanita kadang sulit dimengerti? Wanita itu rumit? Yes, they are🙂

Ika Natassa on her new book said that, “Doesn’t it scare you sometimes how time flies and nothing changes?”, and it makes me so ‘jleb-jleb’.

Do you know dear, right now, I just need your shoulder to lay on, I just need your hands to hold on. Dan untuk saat ini saja, ketika aku diam hingga lelap di bahumu, aku ingin kamu tetap menggenggam tanganku. Ketika saatnya tepat, aku akan mengeluarkan seluruh isi pikiranku, tanpa kamu harus bertanya, “Kamu kenapa?”🙂

Dan lalu kamu menggenggam tanganku, lalu menarik tubuhku, lalu mendekap tubuhku erat, lalu mengusap punggungku, dan dalam diam aku berbicara dalam hatiku, “I love the way you treat me, I love the way you understand about how I feel, and I’ll talk to you about my doubt later. Just hold me tight, I just wanna lay my head on your shoulder”.

Dan ternyata sesuatu pun terucap sayup-sayup di telingaku, “Lebih baik melihatmu banyak diam tapi hatimu bicara daripada melihatmu banyak bicara tapi hatimu diam.. “

7 thoughts on “Tentang Rasa: A Quarter Life Crisis?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s