The Last Letter

Ada beberapa orang yang memang sebaiknya disingkirkan jauh-jauh dari kehidupan kita demi ketenangan hati dan pikiran. ~ @benzbara_

Ada hal-hal yang memang harus segera diperjelas. Segala ke-absurd-an yang selama ini dijalani, nyatanya tidak dapat membuat hati Jo bisa tenang begitu saja. Baru kali ini, ketidakjelasan membuat Jo mudah uring-uringan. Padahal sebelum-sebelumnya Jo santai saja dengan sebuah hubungan tanpa status atau hubungan after-the-official-relationship. Baru kali ini, Jo menghadapi pria yang amat sangat tidak mudah dimengerti sikap-sikapnya. Sulit untuk dijelaskan, tetapi banyak sekali hal-hal yang tidak cocok dan entahlah, agak sulit untuk mencapai titik temu.

Besok adalah waktu yang telah ditentukan untuk mereka saling temu. Malam ini perasaan Jo biasa-biasa saja, dia sudah tau apa-apa saja yang harus disampaikan, dan sudah mengetahui pula kesimpulan yang harus diambil, karena ia tak yakin bahwa pria itu akan lebih dulu mengambil keputusan. Harus Jo yang memutuskan sesuatu, untuk memperjelas semua. Malam ini, tak ada hal yang ingin ia lakukan, hanya berharap esok segera datang agar semua cepat selesai.

Pagi hari menjelang, entah ada angin apa, Jo merasa ingin menulis surat. Anggaplah ini menjadi sebuah surat terakhir, karena selama ini, semua email yang masuk ke inbox pria itu dan segala surat tertulis yang pernah diberikan, tidak pernah ada jawaban. Satupun!

Hmm, satu lembar surat sudah siap. Dan entah ada angin apapula, Jo tetiba ingin membuat surat itu menjadi Audio Letter. Jo merekam suaranya dengan membaca surat itu dalam waktu hampir 4 menit, lalu digabungkan dengan lagu Antara Ada Dan Tiada (versi akustik), dan semuanya selesai dalam waktu kurang dari satu jam. Untuk sesuatu hal yang tidak direncanakan dan untuk pertama kalinya membuat audio letter, usaha Jo untuk ‘merayakan’ farewellnya kali ini patut diberi acungan jempol. Semua sudah siap.

I thought (and I wish), this is the last letter. Aku nyerah, dan aku tidak ingin kita terluka lebih dalam lagi. I accept all the things that can’t be. Bagian paling menyedihkan dari kehilangan adalah ketidakmampuan kita menerimanya dan pembiasaan tanpanya. Waktu akan menyembuhkan segalanya, tapi waktu tidak akan menyembuhkan apapun, jika aku, kamu tidak melakukan apa-apa untuk saling membalut luka di pikiran dan perasaan masing-masing. And it’s time for me to go… now.

Bye.

~ Jo.

(The Audio Letter)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s