Pukul Tiga Pagi

Masih belum bisa terlelap. Ada rasa mengganjal yang tiba-tiba menyergap. Menikmati malam dalam gelap. Teringat suatu masa dalam setiap bab.

Pukul tiga pagi.

Kinanti mengalun lembut. “.. Semoga tersalingkan asa, meluruhkan gulita, kelabu segera berganti..”

Pukul tiga pagi.

Untuk kamu yang tidak ingin diingat lagi.
Untuk kamu yang meskipun tidak diingat, sudah semena-mena hadir.

Pukul tiga pagi.

Tolong antarkan aku ke dunia mimpi dan imajinasi. Saat dimana aku bisa jadi apapun yang aku mau, dan aku bisa ada dimanapun yang aku kehendaki.
Tolong antarkan aku ke gerbang dimana sudah tidak ada kau yang kemudian melontarkan kalimat-kalimat yang menyakitkan dan memenuhi memori menyedihkan.

Pukul tiga pagi.

Alunan sedih dari sebuah gramofon tua, Kinanti kembali mengalun lembut.
Sedih. Perih. Miris. Meringis.

4 thoughts on “Pukul Tiga Pagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s