[Hanya] Kenangan

If we were friends again, I might fall back down the same path. So being stranger is the best for us. via @ihatequotes #traveloveing

Just give me some space, sampai semuanya netral lagi ya🙂 Ibarat lagi makan junk food di restoran franchise yang terkenal, kalau mau makan di meja yang masih kotor banget belum diberesin gitu kan jadi males banget. Jadi nunggu mejanya rapi dulu, abis itu kita bisa duduk sambil makan pesenan yang udah dipesen. Lalu bisa makan dengan nyaman. Begitu juga dengan hati. Memasuki hati yang masih dihinggapi rasa-rasa yang tertinggal di masa lalu kok ya nggak nyaman banget. Berlindung dibalik kalimat, “Aku berusaha baik sama semua orang, begitu juga dengan orang-orang di masa lalu aku”. Hmm, ngga semuanya juga mesti dibaikin kan ada porsinya, dear🙂

Atau suatu hari, kamu pernah bilang, “Kamu ngga akan ngerti, lagian ini semua ngga ada hubungannya sama kamu kok”. Kamu bisa bilang begitu karena kamu nggak pernah berusaha membuat aku mengerti. Aku bukan cenayang juga yang bisa baca perasaan dan pikiran kamu dengan jelas sejelas-jelasnya tanpa kamu utarain. Sekali lagi, ketidaknyamanan aku bareng kamu itu, karena masih banyak unfinished business yang aku ngga pernah ngerti dan paham karena ngga pernah dibuat ngerti dan paham sama kamu. Masih banyak urusan di masa lalu kamu yang tertinggal di hati kamu, yang pernah berusaha aku tempatin. Aku nggak pernah main-main dalam mengutarakan perasaan, dan aku nggak pernah main-main sama kalimat-kalimat yang pernah aku lontarin, kalaupun dulu aku terlalu banyak berkata-kata buat kamu, dan sekarang mungkin aku perlahan menghilang, walaupun “I wanna get lost” means “please fight for me”, tapi karena kesempatan kamu itu ya dulu, pas aku juga berusaha buat kamu. Nggak ada gunanya saat kamu berusaha, aku tidak dan saat aku berusaha, kamu tidak peduli. Kamu merasakannya bukan?

Masih ingatkah, ketika aku menawarimu sebuah trip pendakian? Aku tidak berencana ikut karena memang tidak bisa. Aku tau kamu cinta dengan alam, makanya aku menawarimu trip itu. Satu kali tawaran, kamu ragu, kamu bilang tidak ada yang dikenal disana. Aku sudah berusaha meyakinkanmu, bahwa penyelenggara acara itu adalah temanku, dan kamu bisa berkenalan dengan yang lainnya tanpa harus merasa dikucilkan, dan aku bisa berusaha booking satu slot untuk kamu. Lalu kamu meragu. Beberapa hari kemudian, aku menawarimu kembali, karena aku dapat info bahwa slotnya masih ada, jika saja saat itu kamu bilang ‘iya’ saja, aku sudah langsung booking slot dan membayarimu dan langsung meminta itinerary acaranya. Sayangnya kamu bilang tidak. Mengapa aku begitu peduli untuk menawarimu ikut trip itu, karena aku tau kamu suka mendaki. Dan aku akan melakukan hal-hal yang mendukung kesukaan dan hobimu agar kamu senang. Memang agak aneh ketika hal-hal seperti ini diusahakan oleh seorang perempuan. Tapi tidak untukku, aku senang menyenangkan orang lain, termasuk kamu. Entahlah, mungkin rasa itu dulu terlalu tinggi untukmu.

Masih ingatkah dengan buku-buku yang kuberikan untukmu? Apa kabarnya sekarang? Sudah disampulkah? Buku-bukunya Norman Edwin, buku-buku tentang travelling, catatan perjalanan, dan lainnya, aku ingin membuatmu merasa aku begitu mendukung segala hobimu tentang travelling. Ajaibnya, aku merasa tidak kekurangan ketika itu untuk membuatmu bahagia. Asalkan kamu bahagia.

Tapi itu dulu.

Aku ingin menurunkan semua rasa yang pernah ada untuk kamu. Keputusan dariku hari itu, bukan berarti aku pernah menyia-nyiakan apa yang ada di kamu. Tolong jangan berfikir sepicik itu. Nampaknya kamu mulai mencari kambing hitam dari permasalahan yang ada. Mulai main salah-salahan siapa yang menyakiti siapa dan siapa duluan sia-siain siapa. Nope, itu nggak pernah ada di pikiranku sama sekali. Kamu masih ada di pikiranku aja itu sudah terlalu menyakitkan. Tapi aku nggak pengen kamu tau ini semua. Biarlah aku tetap dengan invisible mood, sampai semua netral lagi. Ya?

This is me, Ra, seorang perempuan yang sedang ingin menyendiri, dengan tanpa Jo sekalipun. Untuk rasa yang sedalam ini, emang belum aku ceritakan ke Jo. Untuk menceritakan ulang semua, aku nyesek. Karena dengan cerita, berarti aku mengingat ulang semuanya. Rasa itu, pahit itu, keputusanku untuk menyudahi semua. Mungkin semestinya, karena aku yang menginginkan perpisahan itu, maka akulah yang mesti lega dan berbahagia, ah nyatanya tidak. Aku masih saja benci dengan momen perpisahan.

I wanna get lost.

2 thoughts on “[Hanya] Kenangan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s