Bisikan Senja

Sebuah hal bodoh mungkin. Katakanlah begitu.

Hari kesepuluh, di bulan September, entah kenapa, pemikiran aku tertuju pada sebuah ide untuk membuat sesuatu di 6 hari berikutnya. Padahal ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan film From Bandung With Love yang bilang, “Apapun bisa terjadi dalam 6 hari”. Tentu saja tidak ada hubungannya dengan film itu. It just happen. Yap, di hari ke enambelas di bulan September, dia berulangtahun. Ada beberapa hal yang masih membuat aku tidak suka dengannya, tapi ada hal lain yang justru membawa aku pada keinginan untuk membuatnya bahagia. Entahlah.

Selama enam hari. Di setiap harinya, aku membuat satu tulisan baru, di sela aku sedang tidak ingin berbicara atau berkomunikasi dalam bentuk apapun dalam tiga minggu terakhir. Aneh? Memang. Aku pikir, momen ulangtahun itu bisa mencairkan suasana antara aku dengannya. Atau, momen itu bisa membuat dia menjadi seorang yang lebih menghargaiku sedikit saja. Walaupun nyatanya aku memang masih butuh waktu untuk menyendiri dan menjauh darinya, karena terlalu sesak dengan hubungan yang pernah kita jalani dulu.

Ada dua hal, ketika seseorang memilih untuk menjauh. Satu, karena memang dia amat sangat membencinya, dan tidak pernah sedikit pun terpikir atau terlintas di benaknya tentang seseorang lainnya. Dua, karena memang dia berusaha membencinya setengah mati, karena pernah membuat dia menjadi sebuah tumpuan. Namun belum saja bisa, sehingga masih terus butuh waktu untuk menetralkan semuanya. Nampaknya, aku masuk kategori yang kedua. Tenang saja wahai Penerima, aku pasti bisa. Jangan khawatir.

Setelah enam hari berjalan, banyak hal baru yang kuceritakan padanya. Lalu hari H pun datang. Selama enam hari, pasti aku memikirkan tulisan apa yang ingin aku tulis di hari ini, dan seterusnya. Tentu saja kalo nggak niat, nggak akan ada yang namanya Bisikan Senja. Namun, sayangnya, respon yang diterima oleh sang Penerima, tidak begitu baik. Aku menginginkan dia membaca ke-27 tulisan yang ada, nyatanya pada hari itu dia hanya membaca 10 tulisan saja. Hmm, rasanya apa ya. Tulisan yang sudah ku kumpulkan hingga berjumlah 27, sia-sia begitu saja. Aku tunggu hingga tengah malam di penghujung hari ke enambelas di bulan September itu, namun tetap saja, hanya 10 tulisan yang dia baca. Sekarang, Bisikan Senja, kuputuskan sudah mati. Kasihan. Dia tidak diharapkan oleh sang Penerima. Katakanlah itu sebuah hal terbodoh yang pernah kulakukan untuk lelaki.

Bisikan Senja sudah mati.

Ada sebuah pesan dari Sang Peracau disana,

“Bisikan Senja lahir hanya 6 hari, kemudian mati di akhir 16 September, pada tengah malam. Sang Penerima Bisikan Senja, hanya membaca 10 tulisan saja disini, hingga detik-detik kematian Bisikan Senja.
Kemudian Sang Peracau memilih untuk Mati Suri, karena Sang Penerima pun memilih untuk tidak membaca keseluruhan tulisan disini yang berjumlah 27 tulisan.
Sang Peracau tidak mati, hanya mati suri, dan kemudian tidak bisa berjalan seperti dulu lagi. Semua diluar ekspektasinya. Kekecewaan muncul karena ulah Sang Peracau sendiri.

Sampai jumpa di Senja berikutnya, jika memang masih ada senja.”

Jika saja sang Penerima membaca ke 27 tulisan itu di hari yang sama, aku punya rencana lain untuk Bisikan Senja. Namun tampaknya memang tidak perlu ada cerita apapun lagi, karena memang tidak ada gunanya. Cukup satu kali aku melakukan kebodohan seperti ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s