Akrostik: Rectoverso

Tergelitik untuk mencoba membuat akrostik karena membaca sebuah tulisan disini. Maka inilah puisi akrostik pertama, seadanya dan sederhana yang dapat aku buat. Aku awali dengan Rectoverso. Kenapa? Karena disitu berkecamuk dua rasa, cinta dan benci. Entah ia terpisah satu sama lain, atau saling lebur.

Rasakanlah tiap-tiap bait di setiap sajak pagiku
Embun yang jatuh setetes demi setetes pada daun, selalu menjadi saksi bisu dalam setiap goresan tinta yang kutoreh dari lubuk hati terdalam
Cinta yang pernah terlalu tinggi untukmu, membuatku amat bodoh untuk terus membiarkan pikiran ini berkecamuk hanya karena penuh dengan namamu
Tentu saja aku harus berpikir ulang, mengapa aku harus memikirkanmu disaat kamu memikirkan dia?
Oh, Pencipta alam semesta Sang Pembolak-balik Hati, ijinkanlah aku membalut yang telah patah, memohon kepadamu untuk segera mengganti yang hilang

Visualisasi senja yang seringkali muncul, punya dua makna untukku, setidaknya mulai saat ini
Entah itu senja yang mengingatkanku pada kumpulan hal indah yang memang sengaja kukumpulkan di sebuah tempat di satu senja, ataukah senja yang segera mengingatkanku pada sebuah kematian mengenaskan di salah satu senja yang pernah aku ramu dengan penuh  kasih
Rasanya aku ingin ikut mati, tapi kuurungkan niatku, aku hanya mati suri, dan suatu hari, atau besok, aku akan bangkit lagi dengan rasa bahagia yang kubuat sendiri
Selalu ada senja yang akan kita lewatkan setiap harinya, dan selalu ada senja yang mengingatkanku pada kedua hal tadi
Oh, tapi senja berikutnya mulai esok hari, tidak akan ada lagi kamu di pikiranku.

12 thoughts on “Akrostik: Rectoverso

  1. rasa hanyalah fana
    entahlah jika ada yg masih mau mencari arti
    cerita yang pasti akan menuju akhir
    tentang hidup, tentang rahasia, tentang apalah, apa saja
    ombak sekeliling otak yang menghancurkan karang ego
    vow !
    engah saja lagi yang perlu kau pikirkan
    rangkai segala napas yg terasakan
    sampai smuanya mungkin musnah
    or you can die, by your self

    *apa-apan inih😐

  2. Rasa ini sama seperti sebelumnya
    Emosi yang terus saja turun naik seperti bianglala
    Cinta yang menyebabkan semua rasa ini
    Tawa, tangis, senyum! pun rasa mual pada si empunya rasa
    Olala ….. cintaaaaaaaa

    ehhhh sudah mentoook tieeee *nangis kejer*
    ah tulisan kamu keren tiye pun dengan komen om warm🙂

  3. Pingback: Proyek Menulis #2A « Penikmat Senja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s