Pesisir Pantai

ku beranjak dari tidurku
mencoba melukis pagiku
berharap keajaiban kan datang
daun tak bergerak
sang burung terdiam
menanti senyuman

berat ’tuk melangkah
memulai hari ini
namun semua itu sirna
kau kini ada

sebuah kecupan darimu
cukup membuat duniaku terasa lebih terang
secangkir teh hangat darimu
cukup ’tuk awali hari terindah dalam hidupku

Kau kini ada – Sheila On 7

Sore itu, kamu tiba-tiba bilang kalo besok pagi kita akan pergi ke suatu tempat. Kamu bilang aku ngga boleh banyak bertanya, hingga esok fajar menyingsing. Hmm, satu tempat? Ah, paling kawasan pegunungan dekat dengan kota ini. Aku pikir begitu. Aku sudah membayangkan dingin dan segarnya udara pegunungan, indahnya kebun teh di sekitarnya, dan lainnya.

Pagi tiba, dan aku tidak mempersiapkan apapun. Kamu pun tidak. Kita hanya memakai pakaian yang dipakai saja, dan tidak membawa bekal pun, tidak membawa kamera pun. Sama sekali tidak. Kemudian aku berfikir lagi, ngga jauh, ini mah ke Puncak. Eh tapi kenapa pagi-pagi begini? Puncak kan deket. Kamu hanya senyum-senyum melihat aku yang memang terlihat sedang berfikir. Kamu cuma bilang, kita mau ke pantai, sambil tersenyum.

Hee? Pantai?

Kita pergi menggunakan motorku, tentu saja kamu yang mengendarainya. Tidak ada yang pernah tau, bahwa kita pergi bermotor ke wilayah Pelabuhan Ratu. Entah apa yang ada dalam pikirannya sampai-sampai mau membawaku jauh ke Pelabuhan Ratu, mengendarai motor pula. Cape? Pasti. Tapi aku ngga melihat itu sama sekali dari raut wajahnya. Kita ngobrol sepanjang jalan, kita tertawa haha hihi walaupun medan yang kita lalui berkelok-kelok. Bahkan kita masih bisa tertawa lalu bersembunyi ketika motor yang kita kendarai sedikit kena motor orang lain, karena pas kelokan, entah motor kita atau motor dia yang kelebihan belok, jadi footstepnya kena. Yah, motor orang itu jatuh, lalu kita lari dan bersembunyi. Bodoh! Itu yang aku sempat bilang. Kenapa kamu ngga berhenti, itu dia jatoh. Kamu hanya tertawa-tawa sambil bilang, Hey, kalo aku berhenti, terus aku dikeroyok, terus kamu gimana? Itu dia tadi bertiga, disini aku cowo cuma sendiri, mati nanti. Trus kamu mau apa kalo aku dikeroyok? Jalan pulang aja ngga apal. Lalu aku ikut tertawa, hahaha, iya benar juga ya. Akhirnya kita bersembunyi dibalik bukit sekitar 15 menit sambil masih menertawai kebodohan tadi.

Setelah itu, kita melanjutkan perjalanan. Alhamdulillah ketiga orang tadi yang satu motor itu sudah menghilang entah kemana. Dan Alhamdulillah pun, kita ngga diincer pada hari itu. D’oh!

Pesisir pantai sudah mulai terlihat, kamu menawarkan untuk sarapan. Mengingat kita memang pergi pagi dan tidak membawa perbekalan sama sekali. What a real getaway and hideaway😀 Kita makan di warung nasi pinggir jalan, sarapan yang sederhana dengan lauk yang sederhana, tapi kita makan dengan lahapnya, mungkin lelah sehabis tertawa-tawa tadi. Sungguh aku masih ingin senyum-senyum sendiri jika mengingat hari itu :))

Laluuuu, sampailah kita di pantai. Lalu aku mengingat kebodohan selanjutnya. Kita pergi ke pantai tapi ngga bawa baju ganti. Terus kita mau ngapain di pantai? :)) Yah, jadinya cuma duduk-duduk di pasir, ngeliatin ombak, dan ngedengerin suara ombak yang indahhhh banget. Aku menatap laut itu lama. Menikmati indahnya karena ini pertama kalinya ada seseorang yang punya arti yang lain di hatiku, yang membawaku ke pantai. Kita duduk bersama, berdua, berbicara satu sama lain sambil menatap pantai. Lalu ada kalanya kamu melihat aku melamun menatap pantai, kamu seketika mengangkat badanku, lalu ingin menceburkan aku ke air. Oh noooo!!

Kamu tau kan kita ngga bawa baju ganti? Nggaaaaaaa, plis jangan ceburin aku plis.. Plis turunin akuuuu.

Sialnya kamu hanya tertawa-tawa sambil sesekali menurunkan badanku sedikit lagi ke air. Lantas aku malah menarik badan kamu karena aku bener-bener ngga mau pulang dengan baju basah. Akhirnya kamu menurunkanku juga di bagian pasir. Ah, bodoh! Well, tapi aku menikmatinya🙂

Lalu kita melanjutkan perjalanan lagi, menuju Karang Hawu. Masih di pinggir pantai, namun banyak sekali karang disitu, sayangnya, sekali lagi kita ngga bawa kamera😐 Lalu kita jalan-jalan sampai ke Hotel Samudera, yang konon masih menjadi ‘tempat tinggal’ Nyi Roro Kidul. Ah, suasana horornya dapet, mending nggak lama-lama deh lewat situ.

Ngga lama dari itu, agak siangan kita pulang, supaya sampe rumah masing-masing ngga begitu sore, mengingat perjalanan yang cukup jauh.

Damn, I miss those moment. Really miss those moment😉

p.s: jauh terjadi sebelum film perahu kertas itu ada, bahkan sebelum novelnya terbit🙂

4 thoughts on “Pesisir Pantai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s