Komunikasi

“Kalau lawan bicaramu mendengar dengan sepenuh hati, beban pikiranmu menjadi ringan. Kalau kamu tambah ruwet, meski yang mendengarkanmu tadi seolah serius mendengar, berarti dia tidak benar-benar hadir untukmu.”
― Dee, Supernova: Partikel

***

Terdengar dan terlihat simple, soal komunikasi. Bahkan Rei yang lulusan Ilmu Komunikasi pun kadang kurang bisa menempatkan kalimat, ekspresi, bahasa, dan lainnya. Senja dibuat setengah mati bingungnya menghadapi Rei.  Sebagian dari hatinya bilang “iya”, namun sebagian lagi bilang “tidak”. Rei cenderung lelaki yang “lempeng”. Ketika ditanya dia cukup jawab, “iya”, tanpa ada penjelasan lanjutan. Lalu Senja harus berusaha untuk bertanya lagi agar komunikasi tetap lancar dan obrolan semakin lanjut. Sayangnya jawaban singkat kembali terluncur, “engga”. Okay, end of discussion!

Senja paham, mungkin bukan seperti itu yang Rei maksud, tetapi membuat Senja harus terus memahaminya tanpa dia ingin dipahami, rasanya seperti ingin terbang dengan paralayang, tapi dengan angin kencang. Ingin terbang namun alam tidak mengijinkan.

Tidak tahu alasan yang jelas mengapa Rei kadang berkata singkat seperti itu, jika ditanya apakah lagi banyak pikiran, jawabnya “tidak”. Lalu selesai. Kadang pula Senja merasa, apakah dia yang salah bicara atau bicara di waktu yang kurang tepat? Lama-lama Senja jadi sering menyalahkan dirinya sendiri karena tidak lancarnya komunikasi dia dengan Rei. Aneh, harusnya dengan bersenda gurau, dengan berbicara satu sama lain, beban pikiran menjadi ringan.

( … ) Speechless.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s