Kenapa engga dari dulu?

Kau tau rasanya naik paralayang? Banyak orang hanya suka melihatnya saja. Beberapa hanya ikut mengabadikan. Tapi aku benar-benar ingin tau bagaimana rasanya melayang di udara bebas, seakan melambung tinggi di langit, dan berdesir angin segar di dataran tinggi kota ini.
Aku dan Rama memang baru menjalin hubungan sebentar, baru itungan bulan, tapi semua terasa dimudahkan, dan seakan perkenalan terlalu singkat. Apa ini yang kerap kebanyakan orang bilang, soulmate?
Kami penasaran dan ingin mencoba naik paralayang. Dengan instruktur tentunya. Walaupun hanya mengudara beberapa belas menit saja, aku rasa ini adalah bayaran yang pantas untuk sebuah olahraga ekstrim yang tidak ada pengaman kecuali percaya sepenuhnya pada angin, instruktur dan … takdir. Tiba giliran Rama mencoba duluan, dia bilang supaya dia sampai bawah duluan dan dia akan menungguku dibawah sana. Teriakan Rama membahana, “Wohooooo”..

Sudah saatnya aku bersiap, instruktur melihat arah angin yang cukup baik, lalu kita lari dan siap melayang! Ah, begini rasanya terbang, ingin rasanya berputar-putar tanpa turun lebih lama lagi, melayang dengan melihat pemandangan indah, hamparan bukit dengan warna gradasi, sungguh ingin terbang lebih lama lagi. Tapi kutau Rama sudah menunggu dibawah sana, dan ketika hidup melambungkanku setinggi langit, aku pun tau suatu saat mungkin saja hidup menghempaskanku kembali ke bumi.
Terimakasih Rama atas ajakannya mencoba paralayang.
“Ra, abis paralayang ke At Ta’awun dulu yu, sholat Magrib, Isya abis itu makan jagung bakar lah sebentar”.
Mendadak aku mengernyitkan dahi.
“Bukannya agenda hari ini cuma paralayang?”
“Siapa bilang?”, sambil setengah tertawa.
“Oke baiklah Tuan Muda”
Langit semakin gelap, udara sangat dingin disini. Rama ambil sesuatu dari bawah jok motor, “Nih Ra, pake ini, baju panjang gitu doang mah ga cukup buat kamu, pasti kedinginan banget. Ga kuat dingin kan?”, Rama terkekeh. Seraya kuambil jaket Rama, dan langsung kupakai. Berkali-kali aku perlu meniupkan kedua telapak tangan hanya untuk sedikit menghangatkan.
“Ra .. “
“Hmm?”, sambil mengunyah jagung bakar yang cepat dingin.
“Kita dulu kemana aja ya?”
“Kita? Kamu kali!”, tertawa puas.
“Ra, serius ih. Coba dari dulu kita deket, dan dari dulu juga kita jalan bareng kaya gini”
“Ramaaaa, belum tentu juga kalo kita jalan bareng dari dulu itu bakal lebih baik dari sekarang. Aku menikmati banget kok saat-saat kita yang sekarang. Dan kalo kita jalan bareng dari dulu, kamu ga akan pernah belajar yang namanya cinta dan patah hati, hahaha”
“Heuuu ngeledek!!”
“Eh tapi serius, aku sama kamu perlu belajar ke orang-orang sekitar dulu untuk benar-benar belajar banyak hal, bisa aja itu jadi hal yang bikin kamu mempertimbangkan kenapa kamu balik arah ke aku. Kenapa coba? Dan kenapa juga dalam waktu yang singkat, kita udah bisa deket, dan seneng.”
” … “
“Heh, ngelamun yang bener, jangan ngelamunin masa lalu :|”
“Haha, mikir.. Butterfly effect. Bener juga sih, klo dari dulu, belum tentu kita seneng. Dan klo dari dulu belum tentu aku atau kamu ketemu seseorang di masa lalu yang buat kita sama-sama belajar sebelum kita bener-bener deket”
“Nah tu pinter!”
Malam itu indah, dinginnya udara dataran tinggi, hangatnya suasana renyah tawa, dan manisnya jagung bakar. Lucky to have you, Rama🙂

2 thoughts on “Kenapa engga dari dulu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s