Lilin

Aku pernah seperti lilin yang membakar dirinya sendiri.
Aku pernah seperti lilin yang menerangi ruangan ketika gelap namun perlahan tiada dan tugasnya usai.
Aku pernah.

Kini aku masih menjadi lilin.
Hanya saja gelap sudah bukan jadi temanku.
Ruangan itu selalu diterangi lampu yang tidak pernah dipadamkan.

Kini aku masih menjadi lilin.
Hanya saja aku tak berguna lagi.
Teronggok beku di pojok lemari yang dingin.

Kini aku masih menjadi lilin.
Bahagia menerangi sekitarnya, kemudian lenyap tak bersisa ketika tugasnya usai.
Namun kini aku tiada guna, membahagiakan tidak bisa, sumbu ini pun lembab tak dapat dibakar.

Aku hanyalah lilin, yang selalu disalahkan ketika gelap tiba dan aku tak ada.
Aku hanyalah lilin, yang selalu disalahkan ketika aku tak dapat berdiri tegak diatas asbak.
Aku hanyalah lilin, yang cuma ingin satu, membahagiakan sekitarnya walaupun dirinya hancur.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s