Training CCNA [Part II]

Baca cerita sebelumnya.

Sebenarnya topik CCNA ini tidak terlalu berkaitan langsung dengan pekerjaan saya sehari-hari, karena pekerjaan saya tidak meng-config router ataupun mengoperasikan router. Saya hanyalah pengguna jelata yang taunya hanya pasang IP address ke monitoring. Menghitung IP address dan subnetnya pun saya menggunakan aplikasi LanCalculator. Saya ga hafal IP Class A, B, C, subnetting, dll. Pekerjaan saya tentang IP dibantu sepenuhnya oleh LanCalculator :p Waktu kuliah D3 pun, saya paling tidak suka mata kuliah Jaringan Komputer, dapat C pula *eh. Tapi dengan adanya kesempatan training ini, mudah-mudahan menambah ilmu saya tentang dunia routing dan switching. Paling tidak ga bengong-bengong amat ketika teman-teman saya membicarakan soal routingan IP address😀

Hari-hari training diisi dengan berbagai macam materi. Rasanya seperti kuliah JarKom lagi. Kantor saya mendelegasikan 6 orang termasuk saya, tapi saya hanya perempuan sendiri. Di ruangan training pun tetap saja saya hanya perempuan sendiri. Peserta training hanya 8 orang; 6 orang dari Metrasat, 1 orang dari Infomedia, 1 orang lagi mahasiswa fresh graduate dari Universitas Telkom (dulunya STT Telkom/IT Telkom). Training sudah dijadwalkan mulai tanggal 10 Agustus – 14 Agustus 2015. Hari pertama sampai hari kelima (setengah hari) masih diisi dengan materi. Pada hari kelima, setelah materi terakhir, diisi dengan ujian sertifikasi internasional.

Teman saya sudah mengingatkan, katanya jika ingin lulus ujian sertifikasi CCNA, hafalkan saja soal-soal yang ada di simulator. Dari 278 soal, akan keluar soal yang sama persis sekitar 51 soal. Menghafal 278 soal bukan perkara mudah, soal yang disediakan tentunya dalam bahasa inggris dan banyak sekali tentang pemahaman, walaupun ada beberapa tentang simulasi konfigurasi terhadap pc dan router. Karena saya anaknya agak malas, saya baru menghafal soal di hari ketiga. Hari pertama dan kedua terlalu lelah, dan saya ingin leyeh-leyeh dirumah sepupu. Ternyata waktu untuk menghafal dirasa kurang. Di hari keempat pihak penyelenggara bertanya apakah ada yang ingin re-schedule ujiannya? Teman-teman saya merasa mereka tidak mampu untuk ujian di hari Jumat, 14 Agustus. Dalam hati, saya juga tidak mampu, tapi saya tidak bisa re-schedule hingga minggu depannya seperti yang teman-teman saya inginkan, karena saya terlalu malas untuk berangkat lagi dari Bogor menuju Bandung hanya untuk ujian. Lalu saya mengajukan kepada pihak penyelenggara, kalau saya ingin ujian di hari Sabtu saja, lumayan ada spare waktu satu hari untuk belajar.

Malamnya, di hari keempat, dengan asiknya saya nonton tv, karena merasa masih punya spare waktu 1 hari lagi. Sekitar jam 8 malam, saya iseng buka email, membaca invoice sertifikasi yang masuk dan membaca aturan-aturan yang ada. Panik mulai melanda, disitu tertera, re-schedule bisa dilakukan jika tidak dalam rentang waktu 24 jam sebelum waktu ujian yang sudah ditentukan sebelumnya. Lalu saya ingat-ingat, ujian akan dilakukan esok hari jam 1.30 siang, jika saya baru minta untuk re-schedule tadi sore, maka sebenarnya re-schedule itu tidak akan diijinkan oleh pihak Cisco. Jengjeeeng.

Tidak lama kemudian, ada sms masuk dari pihak penyelenggara, menjelaskan bahwa atas nama Tanti Nopianti tidak bisa di re-schedule karena sudah didaftarkan untuk ujian keesokan harinya. Namun teman-teman yang lain, karena belum didaftarkan, maka mereka masih bisa re-schedule. Kenapa saya bisa didaftarkan duluan? Ah sudahlah, sudah memang jalannya seperti ini. Pasti ada maksudnya. Saya amat sangat pasrah malam itu, dan terus berdoa dan ga lupa terus usaha.

Keesokan harinya masih ada materi setengah hari. Hari itu saya sudah tidak konsen belajar, saya hanya fokus menghafalkan sisa-sisa soal yang belum saya hafalkan. Otak rasanya sudah ngebul. Pengajarnya waktu itu bilang, kalau mau lulus cukup menghafal soal saja kok, dan rata-rata peserta pada lulus semua. Saya agak sedikit lega, tapi tidak teman-teman saya, mereka masih merasa re-schedule ke minggu depan itu adalah pilihan yang tepat. Mereka bilang ke saya, kalau saya mungkin adalah pejuang pemberani karena berani untuk mengambil resiko ujian hari ini. Padahal yang saya pikirkan adalah saya tidak mau kembali lagi ke Bandung hanya untuk ujian.

Siap tidak siap, saya harus siap untuk ujian siang ini.

Bentuk soal-soal yang dihafal adalah dengan bentuk:

  • Multiple-choice single answer
  • Multiple-choice multiple answer
  • Drag-and-drop
  • Fill-in-the-blank
  • Testlet
  • Simlet
  • Simulations (Lab)

Sekilas tentang ujian:

  • Ujian yang diambil: 200-120 CCNA Cisco Certified Network Associate (803) English
  • Waktunya 2 jam
  • Biaya sertifikasinya saja $295. (belum termasuk biaya training 5 hari, yang kalo gasalah mencapai Rp 4.5juta per orang)
  • Soal ujian 51 soal. Bobot terbesar di soal simulasi lab.
  • Hafalkan saja soal dari simulator
  • Nilai minimal lulus 825 dari 1000
  • Dalam mengerjakan soal hanya ada Next, tidak ada Previous. Jadi pastikan soal sudah terjawab dengan baik sebelum menekan tombol Next.
  • Terpantau CCTV dalam ruangan
  • Tidak boleh membawa alat apapun dalam ruangan
  • Disediakan alat untuk menulis dan alas tulis yang bisa dihapus
  • Usahakan datang paling lambat 15 menit sebelum ujian dimulai, karena ada sesi verifikasi dan foto untuk di sertifikasi digital nantinya.

 

Terus gimana hasil sertifikasinya?

Aye lulus mak, 958 dari 1000 points!!

One thought on “Training CCNA [Part II]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s