Gn. Papandayan: Jalan-Jalan Seru (Part 3)

(Sebelumnya)

– Kemping Pondok Saladah (membangun tenda, masak, ketakutan babi hutan).
Sesampainya di Pondok Saladah, hujan pun turun semakin deras. Setelah lapor dan cek ulang oleh Ranger, kita meneduh sementara di sebuah saung besar. Hujan tak kunjung reda, semakin banyak juga orang lain yang meneduh disitu. Karena dingin dan kebetulan di Pondok Saladah banyak warung, maka saya dan beberapa teman mampir warung si Ibu untuk menghangatkan diri dengan minuman panas dan gorengan panas. Ditunggu sambil mengobrol, belum juga reda, akhirnya leader kelompok memutuskan untuk segera mendirikan tenda karena hari semakin sore. Ditengah hujan, berbalut jas hujan, beberapa menunggu tas di saung besar, beberapa lainnya mencari tempat yang cocok untuk mendirikan tenda. Setelah tempat ditemukan, mulailah mereka membangun tenda. Maka didirikanlah 2 tenda untuk 6 orang. Tenda lelaki dan tenda perempuan, dan tidak lupa dipasang flysheet.
Di Pondok Saladah ini, menurut saya yang newbie dalam dunia per-nanjak-an, para pendaki ini sangat dimanjakan. Air melimpah 24 jam tak henti, ada Ranger yang berjaga, ada petugas yang bertugas untuk mengumpulkan sampah yang tertinggal (walau sebaiknya sampah dibawa turun masing-masing kelompok), dan ada beberapa warung.

Continue reading

Gn. Papandayan: Jalan-Jalan Seru (Part 2)

– Baca cerita sebelumnya –

Sebelum nanjak, kita ngobrol-ngobrol santai dulu. Foto-foto bentar, lanjut pemanasan sedikit. Untuk pemula seperti saya, ini jalan-jalan santai yang agak serius, karena masnya minta kita semua pemanasan dan diakhiri dengan berdoa sebelum lanjut perjalanan. Setelah sudah beradaptasi dengan suhu sekitar, kita siap melanjutkan perjalanan. Disarankan menggunakan masker, karena bau belerang di beberapa tempat tercium agak menyengat.

Continue reading

Gn. Papandayan: Jalan-Jalan Seru

Papandayan, 17 – 19 Maret 2017

Berawal dari rencana anak-anak ABM (kantor masnya) yang sekitar akhir tahun lalu abis trekking ke Situ Gunung, mereka ingin melanjutkan petualangan ke “gunung beneran”. Memang ada pilihan yang lebih dekat dari Jakarta dan Bogor, Gunung Gede atau Pangrango misal. Tapi sayangnya masih ditutup hingga akhir April. Diantara kita ber-enam, cuma masnya yang sudah pernah ke Papandayan, jadi lumayan untuk kita berlima “latihan” naik gunung yang “katanya” landai. Khususnya buat saya yang belum pernah ada track record naik gunung sama sekali. Akhirnya dipilih lah Gunung Papandayan di Garut. Sebelumnya saya baru pernah ke Gn Bromo. Sisanya hanya sekedar main di lereng gunung saja. Lereng gunung Salak, lereng gunung Gede Pangrango, dan beberapa curug di sekitar Bogor. Awalnya agak ragu sedikiiiiit karena cuaca Bogor Jakarta yang lagi mendung dan sesekali hujan. Perkiraan cuaca di Garut pun serupa, bahkan ada prediksi hujan lebat disertai petir. Tapi sama sekali ga menggoyahkan kita. *ganbatte

Continue reading

Momentum (part II)

Akhir tahun 2013 diajukan untuk assessment karyawan tetap. Dikejar lulus sama pak bos di kantor, dikejar juga sama orangtua, dikejar juga sama dosen di kampus. Saya merasa itu hal paling pelik dalam hidup, saat itu. Tapi berkat dukungan sana sini, di tahun 2014 akhirnya saya lulus kuliah, alhamdulillah assessment lolos, dan mulai merencanakan pernikahan.
Saya merasa tahun 2014 itu adalah tahun keberuntungan. Tapi ternyata di tahun 2014 juga, saya mulai rutin pengobatan Limfadenitis Tb (bakteri tb yg menyebabkan peradangan pada kelenjar getah bening) selama 9 bulan nonstop dan tidak boleh stop sekali pun. Hingga setelah selesai obat 9 bulan di bulan Desember, saya hentikan pengobatan setelah konsultasi dengan dokter, namun masih was-was takut benjolan kembali muncul.

Sungguh tak dinyana, peradangan kembali muncul bahkan menjadi abses setelah 1 bulan menikah.
Continue reading