Gn. Papandayan: Jalan-Jalan Seru

Papandayan, 17 – 19 Maret 2017

Berawal dari rencana anak-anak ABM (kantor masnya) yang sekitar akhir tahun lalu abis trekking ke Situ Gunung, mereka ingin melanjutkan petualangan ke “gunung beneran”. Memang ada pilihan yang lebih dekat dari Jakarta dan Bogor, Gunung Gede atau Pangrango misal. Tapi sayangnya masih ditutup hingga akhir April. Diantara kita ber-enam, cuma masnya yang sudah pernah ke Papandayan, jadi lumayan untuk kita berlima “latihan” naik gunung yang “katanya” landai. Khususnya buat saya yang belum pernah ada track record naik gunung sama sekali. Akhirnya dipilih lah Gunung Papandayan di Garut. Sebelumnya saya baru pernah ke Gn Bromo. Sisanya hanya sekedar main di lereng gunung saja. Lereng gunung Salak, lereng gunung Gede Pangrango, dan beberapa curug di sekitar Bogor. Awalnya agak ragu sedikiiiiit karena cuaca Bogor Jakarta yang lagi mendung dan sesekali hujan. Perkiraan cuaca di Garut pun serupa, bahkan ada prediksi hujan lebat disertai petir. Tapi sama sekali ga menggoyahkan kita. *ganbatte

Di grup whatsapp mereka, sudah ditentukan beberapa rencana perjalanan secara matang. Saya tinggal ngikut aja. Janjian di Terminal Pasar Rebo sekitar jam 10 malam. Tapiii, saya dan masnya baru berangkat dari Bogor sekitar jam 9 malam ^^ Kita naik KRL dari Bogor ke Tanjung Barat. Dari Tanjung Barat lanjut angkutan umum nomor 19 dan berhenti di Pasar Rebo. Sesampainya disana, udah ada salah satu temen masnya, Astrid, yang udah sampe duluan. Ya, kita telat, baru sampe Pasar Rebo sekitar jam setengah 11an lewat. Angkutan umumnya ngetem (alasan). Eh ternyata 3 temen lainnya, Nico, Santo, Yenny, lebih telat lagi karena kejebak macet lama banget. Kira-kira baru kumpul sekitar setengah 12 ^^

Naiklah kita dengan Bus menuju Garut, “merk” Wanajaya. Agak kurang terkenal ya namanya haha, saat itu yang penting cepet naik bis, khawatir semakin larut malam. Sayangnya, jarang antar kursi agak sempit, jadi agak kurang nyaman untuk istirahat. Walaupun sempat agak merayap di beberapa titik, tapi supirnya cukup jago mengejar waktu, alias ngebut. Jam 5 pagi udah sampe Terminal Guntur, dan langsung ke WC dan Mushola. Disana sudah tersedia angkutan umum ataupun mobil pick up yang akan mengantarkan ke dua tujuan berbeda, Gn Papandayan dan Gn Cikuray. Berhubung kami ber-enam dan kapasitas angkutan umum 15 orang, maka kita diminta menunggu lagi untuk memenuhi kapasitas angkutan itu. Karena yang ditunggu-tunggu belum datang juga, akhirnya kita sarapan dulu, asal perut keisi dulu aja.

Tik tok tik tok.
Continue reading

Momentum (part II)

Akhir tahun 2013 diajukan untuk assessment karyawan tetap. Dikejar lulus sama pak bos di kantor, dikejar juga sama orangtua, dikejar juga sama dosen di kampus. Saya merasa itu hal paling pelik dalam hidup, saat itu. Tapi berkat dukungan sana sini, di tahun 2014 akhirnya saya lulus kuliah, alhamdulillah assessment lolos, dan mulai merencanakan pernikahan.
Saya merasa tahun 2014 itu adalah tahun keberuntungan. Tapi ternyata di tahun 2014 juga, saya mulai rutin pengobatan Limfadenitis Tb (bakteri tb yg menyebabkan peradangan pada kelenjar getah bening) selama 9 bulan nonstop dan tidak boleh stop sekali pun. Hingga setelah selesai obat 9 bulan di bulan Desember, saya hentikan pengobatan setelah konsultasi dengan dokter, namun masih was-was takut benjolan kembali muncul.

Sungguh tak dinyana, peradangan kembali muncul bahkan menjadi abses setelah 1 bulan menikah.
Continue reading

Momentum

Kadang dalam hidup kita memang perlu sesekali melihat ke belakang, kilas balik moment-moment tertentu beberapa tahun belakangan.

Good thing, bad thing. Ups and downs.

Dimulai sekitar akhir semester 2010. Kala itu sekitar 6.500 orang memasukkan berkas lamaran ke Kementrian Sekretariat Negara. Tahap I, sekitar 1.200 orang lolos seleksi administrasi untuk kemudian tes tertulis pengetahuan umum. Tahap II, sekitar 100 orang lolos seleksi lalu tes tulis detail mengenai kementrian, lanjut psikotes dan wawancara dengan psikolog di hari yang sama.
Sambil menunggu pengumuman untuk ke tahap selanjutnya, saya coba untuk ke perusahaan lain, Metrasat, sebuah perusahaan bidang telekomunikasi basis satelit. Saya infokan juga kalau sedang apply di kementrian, maka di Metrasat freelance dulu sambil menunggu pengumuman.
Ternyata saya masih masuk di seleksi tahap terakhir tes Sekretariat Negara. Untuk di divisi yg saya lamar, hanya 10 orang wawancara di kantor kemensetneg dengan karyawan internal. Sambil menunggu pengumuman terakhir, atasan saya di Metrasat berdoa agar saya tetap di Metrasat 😦
Continue reading

Training CCNA [Part II]

Baca cerita sebelumnya.

Sebenarnya topik CCNA ini tidak terlalu berkaitan langsung dengan pekerjaan saya sehari-hari, karena pekerjaan saya tidak meng-config router ataupun mengoperasikan router. Saya hanyalah pengguna jelata yang taunya hanya pasang IP address ke monitoring. Menghitung IP address dan subnetnya pun saya menggunakan aplikasi LanCalculator. Saya ga hafal IP Class A, B, C, subnetting, dll. Pekerjaan saya tentang IP dibantu sepenuhnya oleh LanCalculator :p Waktu kuliah D3 pun, saya paling tidak suka mata kuliah Jaringan Komputer, dapat C pula *eh. Tapi dengan adanya kesempatan training ini, mudah-mudahan menambah ilmu saya tentang dunia routing dan switching. Paling tidak ga bengong-bengong amat ketika teman-teman saya membicarakan soal routingan IP address 😀

Hari-hari training diisi dengan berbagai macam materi. Rasanya seperti kuliah JarKom lagi. Kantor saya mendelegasikan 6 orang termasuk saya, tapi saya hanya perempuan sendiri. Di ruangan training pun tetap saja saya hanya perempuan sendiri. Peserta training hanya 8 orang; 6 orang dari Metrasat, 1 orang dari Infomedia, 1 orang lagi mahasiswa fresh graduate dari Universitas Telkom (dulunya STT Telkom/IT Telkom). Training sudah dijadwalkan mulai tanggal 10 Agustus – 14 Agustus 2015. Hari pertama sampai hari kelima (setengah hari) masih diisi dengan materi. Pada hari kelima, setelah materi terakhir, diisi dengan ujian sertifikasi internasional.

Continue reading