Duaribulimabelas

duajanuariduaribulimabelas.

Tanpa terasa waktu berjalan begitu cepat. Duaribuempatbelas yang pernah saya nantikan sebelumnya, ternyata sudah berlalu .. dengan indah :) Ada rasa puas telah melewati duaribuempatbelas yang begitu saya banggakan bahkan sebelum memasuki tahun tersebut. Kenapa? Karena saya suka angka empatbelas :p Simple!
Continue reading

Nyemplung ke Laut

Masih lekat banget di ingatan, ketika waktu itu saya udah punya rencana bareng temen-temen mau ke Belitung. Beli tiket udah, bikin rundown udah, nabung buat survive nanti disananya udah, tapi sungguh tak dinyana, ketika beberapa minggu akan berangkat, sudah dipastikan satu per satu undur diri, karena cuaca lagi engga bersahabat katanya, ada juga yang berbenturan dengan jadwal kerja yang engga bisa ditinggal. Saya mau tetep keukeuh solo trip kok ya ga berani :D (Saya ini anak introvert yang penakut kalo di tempat baru :p) Lagipula pesawat yang waktu itu akan saya tumpangi ternyata gak lama lagi bangkrut, ah sudahlah. Haha.

Sekian tahun kemudian, ada berita gembira untuk kita semua *halah*. Kantor saya ngadain employee gathering ke Belitung, wow. Biasanya cuma ke Puncak, Sukabumi, malah terakhir ke Sentul. Terlalu deket dari Bogor :D Emang sih cuma 2 hari 1 malam, tapi bener-bener pengalaman tak terlupakan. Selain pengalaman pergi ke Belitung, liat-liat pantai yang keren-keren banget, naik ke mercusuar 18 lantai dan ketika sampai atas ternyata udah waktunya turun karena kapal sudah mau berangkat, eh ada satu hal yang sempet bikin mood ga enak.
Continue reading

Lilin

Aku pernah seperti lilin yang membakar dirinya sendiri.
Aku pernah seperti lilin yang menerangi ruangan ketika gelap namun perlahan tiada dan tugasnya usai.
Aku pernah.

Kini aku masih menjadi lilin.
Hanya saja gelap sudah bukan jadi temanku.
Ruangan itu selalu diterangi lampu yang tidak pernah dipadamkan.

Kini aku masih menjadi lilin.
Hanya saja aku tak berguna lagi.
Teronggok beku di pojok lemari yang dingin.

Kini aku masih menjadi lilin.
Bahagia menerangi sekitarnya, kemudian lenyap tak bersisa ketika tugasnya usai.
Namun kini aku tiada guna, membahagiakan tidak bisa, sumbu ini pun lembab tak dapat dibakar.

Aku hanyalah lilin, yang selalu disalahkan ketika gelap tiba dan aku tak ada.
Aku hanyalah lilin, yang selalu disalahkan ketika aku tak dapat berdiri tegak diatas asbak.
Aku hanyalah lilin, yang cuma ingin satu, membahagiakan sekitarnya walaupun dirinya hancur.

Kala Senja

Karma does exist. But, is it karma? How do we define it?

“Kalau lawan bicaramu mendengar dengan sepenuh hati, beban pikiranmu menjadi ringan. Kalau kamu tambah ruwet, meski yang mendengarkanmu tadi seolah serius mendengar, berarti dia tidak benar-benar hadir untukmu.”
― Dee, Supernova: Partikel

Nyatanya, pepatah itu lagi yang harus Senja tulis.

Hmm, sudah lama sekali Senja meninggalkan kebiasaan menyesap kopi hitam. French Press yang mungkin sudah setahun lebih tidak digunakan, apalagi Vietnam Drip, hanya beberapa kali saja digunakan. Kini ada seseorang yang selalu mengingatkan bahwa tidak baik mengkonsumsi kopi sering-sering. Pun Senja memahaminya, hanya saja sesekali menyesap kopi instan masih sering dilakukannya. Seseorang yang sudah lama ada di sekitar Senja , hanya saja Senja terlalu acuh dan hanya menganggapnya sebagai seseorang yang hanya dia kagumi. Lelaki itu bernama Kala. Namun kini Kala sudah bukan hanya teman, waktu menjawab sesuatu, bahwa ketika kedua titik dipertemukan dalam persimpangan, pasti memiliki maksud tertentu, maksud yang mereka tangkap kini adalah they want to live happily ever after. Aamiin.

Tetapi bukanlah jalan kehidupan bila perjalanan dijalani dengan baik-baik saja atau bahkan terlalu baik-baik saja. Beberapa hal memang hanya Senja pendam, tidak pernah ia ceritakan pada siapapun. Siapapun. Senja merasa hanya hati dan pikiran yang menyelaraslah yang tau jawaban kegundahannya, lalu semua menguap begitu saja dengan sebuah kesimpulan yang membuatnya dapat tenang sendiri. Senja tau, kini sudah ada Kala, tempat bercerita apapun. Bahkan hal yang mengganjal pun tak dapat Senja ucapkan, lidahnya terlalu kelu.

Karma? Sebab akibat atau apalah yang setiap orang definisikan masing-masing.

Singkatnya, agaknya Senja mulai membenci dirinya sendiri. Bahwa ada seorang Kala yang belum bisa dia bahagiakan sepenuhnya. Bahwa ada seorang Kala yang selalu Senja kecewakan.