Ada apa dengan Paris?

A heart without dreams is like a bird without feathers. ~ Suzy Kassem

***

Mendengar/membaca kata Eropa, yang pertama ada di pikiran adalah, jauh dan impossible. Jarak dari Jakarta ke Eropa kurang lebih 11.577 km, sebagai perbandingan, jarak antara Sabang ke Merauke kurang lebih 8.514 km. J A U H, literally! 😀

Dulu, mungkin sekitar SMA atau pas Diploma ya, saya ga inget pastinya, saya mulai menyukai Menara Eiffel. Seringkali saya menggambar menara itu dimana-mana, di buku tulis, di kertas soal, buku paket dll. Entah hal magis apa yang menarik saya untuk menyukai Eiffel. Apalagi setelah dapet gantungan kunci Eiffel dari sepupu. Semakin ngeh dengan detailnya Eiffel. Saat ada tugas kuliah waktu Ekstensi mata kuliah Komputer Grafis untuk membuat visual grafis (gambar) menggunakan coding C++ pun, tanpa pikir panjang “Saya ingin menggambar Eiffel!“. Ngga kepikiran gimana caranya, tapi itu targetnya. And I did it! Walaupun ga sempurna, tapi selesai dan berhasil! Setelah itu saya mulai menonton berbagai film berlatar belakang Paris, seperti; Before Sunset (2004), The Bourne Identity (2002), Paris, Je T’aime (2006), The Da Vinci Code (2006), The Devil Wears Prada (2006), The Curious Case of Benjamin Button (2008), G.I. Joe: The Rise of Cobra (2009), The Tourist (2010), Nodame Cantabile The Movie (2010), Midnight in Paris (2011), The Bourne Ultimatum (2011), dan gatau lagi kalo masih ada yang missed 😀 Sisanya ya sebatas liat-liat foto kota Paris terus di save-save in di PC.

Continue reading

Recap: I’m back!

Hai, guys! *halah ga cocok

***

Anyway, welcome back! (ngomong sama diri sendiri). Udah setahun lebih 4 bulan ya ternyata saya udah ga pernah nulis disini lagi. Why, Tie why? Ya mungkin saya sibuk (baca:males). Ada pepatah bilang, “The longer we keep looking back in the rear view mirror, it takes away from everything that’s moving forward.”. Intinya, boleh liat sesekali ke belakang, tapi jangan live in the past gitu.

Jadi, apakah yang sudah terjadi selama setahun belakangan ini?

Hmm, saking lamanya, saya juga lupa runutan peristiwa-peristiwa yang udah terjadi setahun belakangan. Seinget saya, untuk trip ke alam, setahun ini sudah ke Gunung Gede dua kali, Camping di Loji dua kali juga, terakhir ke Gunung Prau.

Trip yang ngeselin tapi lumayan jadi pengalaman, meeting ke Palangkaraya (untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di tanah Borneo), berangkat pagi, pulang malemnya, ga nginep sama sekali. Kesana cuma buat meeting aja. RIP video conference technology!

Kalau trip yang tak diduga, nemenin trainer asal Belgia ke Yogyakarta, dan beberapa minggu kemudian malah saya yang diutus kantor untuk ke Belgia (yay, untuk pertama kalinya ke Eropa). Lunas! Plus bonusnya Perancis dan Belanda. Mungkin untuk bagian ini akan saya ceritakan terpisah, biar ada gregetnya.. lhaaaa..

As a recap, mungkin ini dulu aja highlightsnya yang mungkin bisa mengobati kangen pemirsa semuanya.. Sampai jumpa di lain waktu..

Kemping Ceria: Loji Suaka Elang

Saya sering mendengar sebuah tempat dengan nama Loji Suaka Elang, tetapi belum pernah sama sekali menjamah areanya. Loji Suaka Elang berada di Taman Nasional Halimun Salak, di area Loji, Cigombong. Nah kebetulan waktu itu lagi pengen refreshing yang ngga jauh-jauh tapi asik, udaranya sejuk, lingkungannya masih tetep asri. So, here we go!

Beberapa hari lalu, 22 April 2017, saya, Masnya dan 3 orang teman janjian di Stasiun Bogor kira-kira jam 10 pagi. Darisitu kita berlima carter angkot untuk menuju Loji, ternyata lumayan juga harganya, Rp. 150.000 sekali jalan. Di perjalanan kami minta nomor kontak supirnya, mana tau nanti ketika kita pulang, bisa dijemput lagi. Jarak tempuh dari Stasiun Bogor ke Loji kurang lebih 20km, dengan waktu tempuh kurang lebih 1 jam perjalanan normal. Di perjalanan, saya baru kenal dengan 2 orang teman Masnya, disitu kita ngobrol ngalor ngidul cerita kisah-kisah perjalanan atau pengalaman seru diluar sana. Selalu menarik rasanya punya teman baru di setiap perjalanan.

Sesampainya di area Loji, kita diturunkan di dekat sebuah Sekolah Dasar, supirnya bilang, “Sampai sini saja, nanti darisini kalian jalan aja mengikuti jalur itu (sambil menunjuk ke arah yang dimaksud”.

video by @umuproject, model by @astridfadil, videographer and editor by @hanugrah

Continue reading

Gunung Papandayan: Jalan-Jalan Seru (Part 3)

(Sebelumnya)

– Kemping Pondok Saladah (membangun tenda, masak, ketakutan babi hutan).

Sesampainya di Pondok Saladah, hujan pun turun semakin deras. Setelah lapor dan cek ulang oleh Ranger, kita meneduh sementara di sebuah saung besar. Hujan tak kunjung reda, semakin banyak juga orang lain yang meneduh disitu. Karena dingin dan kebetulan di Pondok Saladah banyak warung, maka saya dan beberapa teman mampir warung si Ibu untuk menghangatkan diri dengan minuman panas dan gorengan panas. Ditunggu sambil mengobrol, belum juga reda, akhirnya leader kelompok memutuskan untuk segera mendirikan tenda karena hari semakin sore. Ditengah hujan, berbalut jas hujan, beberapa menunggu tas di saung besar, beberapa lainnya mencari tempat yang cocok untuk mendirikan tenda. Setelah tempat ditemukan, mulailah mereka membangun tenda. Maka didirikanlah 2 tenda untuk 6 orang. Tenda lelaki dan tenda perempuan, dan tidak lupa dipasang flysheet.

Di Pondok Saladah ini, menurut saya yang newbie dalam dunia per-nanjak-an, para pendaki ini sangat dimanjakan. Air melimpah 24 jam tak henti, ada Ranger yang berjaga, ada petugas yang bertugas untuk mengumpulkan sampah yang tertinggal (walau sebaiknya sampah dibawa turun masing-masing kelompok), dan ada beberapa warung.

Continue reading